Oleh: Nurul Khofifah Lestari
“Saya hanya perempuan sederhana. Tetapi saya percaya, kesederhanaan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Sebab, cita-cita tidak pernah bertanya dari mana seseorang berasal, melainkan seberapa besar keberaniannya untuk terus melangkah.”
Ada satu pandangan yang masih sering tumbuh dalam kehidupan masyarakat kita: bahwa mimpi besar seolah-olah hanya pantas dimiliki oleh mereka yang lahir dari keluarga berada, memiliki fasilitas memadai, atau tumbuh dalam lingkungan yang memberikan banyak kemudahan.
Sementara itu, mereka yang berasal dari kehidupan sederhana terkadang harus berhadapan dengan kenyataan yang berbeda. Bahkan sebelum berjuang mewujudkan cita-cita, mereka lebih dahulu dipaksa berdamai dengan berbagai keterbatasan.
Apalagi bagi seorang perempuan.
Tidak jarang, perempuan masih dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang secara tidak langsung membatasi ruang geraknya. Untuk apa sekolah terlalu tinggi? Mengapa harus mengejar gelar akademik? Bukankah hidup sederhana sudah cukup untuk membuat seseorang bahagia?
Pertanyaan semacam ini mungkin terdengar biasa. Namun, di baliknya tersimpan cara pandang yang perlu kita renungkan bersama.
Sejak kapan kesederhanaan menjadi alasan untuk membatasi cita-cita seseorang? Dan sejak kapan perempuan harus merasa bersalah karena memiliki mimpi yang lebih tinggi daripada keadaan hidupnya hari ini?
Kesederhanaan Bukanlah Batas Kemampuan
Menjadi perempuan sederhana bukan berarti harus memiliki pemikiran yang sederhana pula.
Kesederhanaan dalam penampilan, gaya hidup, maupun keadaan ekonomi tidak pernah secara otomatis mencerminkan rendahnya kemampuan intelektual seseorang.
Seorang perempuan mungkin terbiasa mengenakan pakaian yang tidak mahal, menjalani kehidupan tanpa kemewahan, dan tidak memiliki banyak hal untuk dipamerkan kepada dunia. Namun, di balik kehidupannya yang tampak biasa, bisa saja tersimpan cita-cita yang luar biasa.
Ia mungkin sedang berjuang menyelesaikan pendidikan tinggi. Mungkin sedang membaca buku ketika orang lain terlelap. Mungkin sedang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membayar biaya kuliah. Atau mungkin sedang melawan rasa lelah karena harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pendidikan.
Perjuangan semacam itu tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Tidak semua mimpi besar lahir dari ruang yang nyaman. Sebagian justru tumbuh dari keadaan yang penuh keterbatasan.
Namun, kita juga tidak boleh meromantisasi kesulitan. Keterbatasan ekonomi, akses pendidikan yang tidak merata, dan tuntutan sosial merupakan hambatan nyata yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan semangat pribadi.
Karena itu, ketika seorang perempuan dari kehidupan sederhana berusaha meraih pendidikan tinggi, perjuangannya bukan sekadar persoalan ambisi. Ada keberanian untuk menantang keadaan, sekaligus harapan agar kesempatan hidup yang lebih baik tidak hanya menjadi milik kelompok tertentu.
Kesederhanaan boleh menjadi bagian dari identitas seseorang, tetapi tidak seharusnya menjadi batas dari masa depannya.
Perempuan Berhak Memiliki Mimpi yang Tinggi
Kita perlu mengakui bahwa perjalanan perempuan dalam memperoleh pendidikan dan kesempatan mengembangkan diri tidak selalu mudah.
Di sejumlah lingkungan, perempuan masih menghadapi ekspektasi sosial yang berbeda dengan laki-laki. Ketika seorang laki-laki memiliki ambisi besar, ia sering dianggap sedang mempersiapkan masa depan. Namun, ketika perempuan menunjukkan keinginan yang sama, terkadang muncul pertanyaan tentang prioritas, peran, bahkan kepantasannya.
Padahal, pendidikan bukanlah hak istimewa yang ditentukan oleh jenis kelamin.
Perempuan berhak belajar setinggi mungkin. Berhak mengembangkan kemampuan intelektualnya. Berhak menjadi pemimpin, peneliti, pendidik, pengusaha, atau apa pun yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Pendidikan tinggi juga tidak harus dimaknai sebagai upaya perempuan untuk menyaingi laki-laki.
Pendidikan adalah jalan untuk membangun kapasitas diri, memperluas pilihan hidup, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Seorang perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan bukan berarti sedang menolak tanggung jawab sosial ataupun keluarganya. Ia sedang memperjuangkan hak untuk bertumbuh sebagai manusia yang memiliki pikiran, harapan, dan masa depan.
Bukankah masyarakat justru akan memperoleh manfaat ketika semakin banyak perempuan memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensinya?
Perempuan berpendidikan dapat menghadirkan gagasan, kepemimpinan, inovasi, dan perubahan di berbagai bidang kehidupan.
Oleh karena itu, mimpi perempuan tidak seharusnya diperkecil hanya agar sesuai dengan harapan orang lain.
Pendidikan Tinggi Tidak Harus Mengubah Kesederhanaan
Ada hal menarik dari perjalanan seseorang dalam mengejar pendidikan.
Semakin jauh seseorang belajar, semakin besar pula peluangnya untuk mengenal dunia yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Pendidikan mempertemukan manusia dengan berbagai pemikiran, pengalaman, dan perspektif baru. Ia mengajarkan keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk meragukan asumsi, serta kesediaan untuk memperbaiki cara pandang.
Namun, pendidikan yang baik semestinya tidak membuat seseorang kehilangan akar kehidupannya.
Seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana tidak perlu merasa malu terhadap masa lalunya ketika berhasil meraih pendidikan tinggi.
Ia tidak harus mengubah seluruh gaya hidupnya demi memperoleh pengakuan sosial. Tidak perlu berpura-pura menjadi pribadi lain hanya karena lingkungan akademik atau profesional memiliki standar penampilan tertentu.
Sebab, pendidikan seharusnya mengangkat kualitas pemikiran seseorang, bukan memaksanya meninggalkan jati diri.
Perempuan boleh memiliki gelar akademik yang panjang, tetapi tetap menikmati kehidupan yang bersahaja.
Ia boleh memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tetap berbicara dengan rendah hati.
Ia boleh mencapai kedudukan yang tinggi, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk menghormati mereka yang belum memperoleh kesempatan serupa.
Di sinilah kesederhanaan dan pendidikan menemukan titik pertemuannya.
Ilmu memberikan kekuatan untuk melangkah lebih jauh, sementara kerendahan hati menjaga agar seseorang tidak kehilangan arah.
Jangan Mengukur Masa Depan dari Keadaan Hari Ini
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan manusia adalah menganggap keadaan hari ini sebagai gambaran pasti tentang masa depannya.
Ketika hidup dalam keterbatasan, seseorang mungkin merasa bahwa cita-cita besar terlalu jauh untuk dijangkau.
Ketika tidak memiliki fasilitas yang sama dengan orang lain, ia mulai meragukan kemampuannya sendiri.
Ketika perjalanan pendidikan terasa panjang dan melelahkan, muncul pertanyaan apakah seluruh perjuangan tersebut benar-benar akan menghasilkan sesuatu.
Perasaan semacam itu manusiawi.
Namun, keadaan hari ini bukanlah satu-satunya penentu masa depan.
Perjalanan hidup dibentuk oleh banyak hal: kesempatan, dukungan keluarga, kondisi sosial, kebijakan pendidikan, kemampuan pribadi, dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.
Karena itu, perempuan tidak perlu membandingkan seluruh perjalanan hidupnya dengan pencapaian orang lain.
Ada yang mampu menyelesaikan pendidikan pada usia muda. Ada pula yang baru memiliki kesempatan melanjutkan studi setelah bekerja atau membangun keluarga.
Ada yang memperoleh dukungan finansial penuh. Ada pula yang harus menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan keinginannya.
Perbedaan perjalanan tidak berarti perbedaan nilai kemanusiaan.
Tidak ada ketentuan bahwa semua orang harus berhasil pada usia yang sama, dengan cara yang sama, dan melalui jalan yang sama.
Terlambat menurut ukuran orang lain bukan berarti gagal menurut perjalanan hidup kita sendiri.
Yang terpenting adalah menjaga kesempatan untuk terus belajar, bertumbuh, dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Mimpi Besar Tidak Selalu Berarti Ingin Menjadi Terkenal
Di tengah budaya yang semakin mengagungkan popularitas, kita sering menghubungkan mimpi besar dengan kekayaan, jabatan, atau ketenaran.
Padahal, tidak semua perempuan yang memiliki cita-cita tinggi ingin menjadi pusat perhatian.
Ada perempuan yang bermimpi menyelesaikan pendidikan magister karena ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu.
Ada yang ingin menjadi pendidik agar dapat membantu generasi berikutnya memperoleh kesempatan yang lebih baik.
Ada yang ingin meningkatkan pengetahuan agar lebih mandiri dalam mengambil keputusan.
Ada pula yang sekadar ingin menjadi perempuan yang mampu berdiri tegak dengan pemikirannya sendiri, tanpa harus menggantungkan seluruh penilaian tentang dirinya kepada orang lain.
Semua itu adalah mimpi yang berharga.
Ukuran besar atau kecilnya sebuah cita-cita tidak selalu dapat dilihat dari seberapa tinggi jabatan yang diperoleh atau seberapa banyak uang yang dihasilkan.
Terkadang, mimpi terbesar seseorang adalah berhasil melampaui ketakutan yang selama ini membatasi dirinya.
Dan bagi perempuan yang tumbuh dalam berbagai keterbatasan, keberanian untuk mengatakan “Saya ingin melanjutkan pendidikan” dapat menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupannya.
Penutup: Biarkan Saya Sederhana, tetapi Jangan Batasi Mimpi Saya
Pada akhirnya, saya percaya bahwa menjadi perempuan sederhana bukanlah sesuatu yang perlu disesali.
Saya tidak harus hidup dalam kemewahan untuk memiliki harga diri. Tidak harus mengikuti setiap perkembangan gaya hidup untuk dianggap berharga. Dan tidak harus menjadi orang lain agar keberadaan saya memperoleh pengakuan.
Namun, kesederhanaan juga tidak berarti saya harus berhenti bermimpi.
Saya ingin terus belajar, bukan untuk membuktikan bahwa saya lebih hebat daripada orang lain, melainkan karena saya menyadari masih banyak hal yang belum saya ketahui.
Saya ingin memiliki pendidikan yang tinggi, bukan semata-mata untuk menambahkan gelar di belakang nama, melainkan untuk membangun cara berpikir yang lebih matang, memperluas pandangan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Saya memahami bahwa perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah.
Akan ada kelelahan, keraguan, keterbatasan, bahkan kemungkinan kegagalan. Tetapi semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengubur cita-cita sebelum diperjuangkan.
Karena saya percaya, seorang perempuan tidak harus dilahirkan dalam keadaan istimewa untuk memiliki harapan yang istimewa.
Ia boleh memulai dari kehidupan yang sederhana, menempuh perjalanan yang panjang, dan menghadapi berbagai kesulitan. Namun, selama kesempatan untuk belajar masih terbuka, ia berhak memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
Saya mungkin hanya perempuan sederhana. Tetapi pemikiran saya tidak harus berhenti pada batas-batas kesederhanaan itu.
Biarkan penampilan saya tetap bersahaja. Biarkan kehidupan saya berjalan tanpa harus dipenuhi kemewahan. Biarkan orang lain memiliki penilaiannya masing-masing.
Namun, jangan pernah meminta saya mengecilkan cita-cita hanya karena kehidupan saya terlihat sederhana.
Sebab, saya ingin membuktikan satu hal, setidaknya kepada diri saya sendiri:
Bahwa perempuan sederhana juga berhak memiliki mimpi yang tidak sederhana.
Dan jika suatu hari pendidikan membawa saya melangkah lebih jauh, saya berharap tidak kehilangan satu hal yang sejak awal menjadi bagian dari diri saya: kesederhanaan.
Karena bagi saya, pencapaian tertinggi bukanlah ketika seseorang berhasil terlihat lebih hebat daripada orang lain, melainkan ketika ia mampu menjadi pribadi yang lebih berilmu, lebih bijaksana, dan lebih bermanfaat tanpa kehilangan kerendahan hati.
“Saya tidak ingin dikenal karena kemewahan yang saya miliki. Saya ingin dikenang melalui ilmu yang saya pelajari, nilai yang saya jaga, dan manfaat yang mampu saya berikan.”
Sederhana dalam gaya, tinggi dalam ilmu.

