Sebuah refleksi perjalanan Dody Pernanda dalam menempuh Magister Manajemen Sumber Daya Manusia
Ada pencapaian yang terlihat sederhana dari luar, tetapi menyimpan perjalanan yang panjang di belakangnya. Sebuah gelar, sebuah foto setelah sidang, atau sebuah ucapan “selamat” mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dilihat. Namun bagi seseorang yang menjalaninya, setiap pencapaian membawa cerita tentang waktu, pilihan, tekanan, pekerjaan, keluarga, orang-orang yang hadir, dan keberanian untuk terus melangkah ketika perjalanan belum menunjukkan garis akhirnya.
Pada tahun 2026, saya menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Sumber Daya Manusia (S2) di Universitas Pamulang. Bagi saya, kelulusan ini bukan sekadar bertambahnya gelar di belakang nama. It is a reminder that every meaningful achievement is built through consistency, patience, and the courage to keep moving forward.
Perjalanan menuju titik ini tidak saya lihat sebagai perjalanan untuk menjadi lebih tinggi dari orang lain. Justru sebaliknya, pendidikan membuat saya semakin memahami bahwa semakin banyak yang kita pelajari, semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui.
1. Journey: Tidak Semua Perjalanan Harus Mudah
Memulai pendidikan magister adalah keputusan untuk kembali belajar, berkembang, dan menantang diri sendiri. Di tengah perjalanan profesional yang terus berjalan, saya harus tetap menjaga tanggung jawab pekerjaan sekaligus menyelesaikan proses akademik. Ada saat ketika energi terbagi, perhatian harus diatur, dan prioritas harus disusun kembali.
Namun, saya belajar bahwa perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai. Sometimes, the most important thing is simply to keep going. Ada hari-hari ketika langkah terasa ringan, tetapi ada pula masa ketika proses terasa panjang. Yang membedakan bukan siapa yang tidak pernah lelah, melainkan siapa yang tetap memilih untuk melanjutkan.
Tesis menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut. Penelitian mengajarkan saya untuk melihat persoalan secara lebih terstruktur, memahami data, menerima kritik, memperbaiki kekurangan, dan mempertahankan argumen dengan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Sidang bukan hanya menjadi ujian akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji ketenangan, kesiapan, dan kemampuan menerima masukan.
“The journey was never about proving that I was better than others. It was about proving to myself that I was capable of going further.”
2. Family: Di Balik Sebuah Pencapaian, Ada Doa yang Tidak Selalu Terlihat
Setiap pencapaian pribadi hampir selalu memiliki cerita yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Di balik proses yang terlihat sebagai perjuangan individual, ada keluarga yang menjadi tempat kembali, tempat mendapatkan dukungan, dan sumber kekuatan ketika perjalanan terasa berat.
Bagi saya, sosok Mama memiliki tempat yang sangat istimewa dalam perjalanan ini. Ada dukungan yang mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar, tetapi terasa dalam doa, perhatian, dan keyakinan yang diberikan. Karena itu, ketika akhirnya satu tahap pendidikan ini selesai, saya menyadari bahwa pencapaian ini bukan hanya milik saya.
“Behind every achievement is someone who never stops believing in us. This achievement is also for you, Mom.” ❤️
Kalimat tersebut sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Gelar ini saya persembahkan juga untuk Mama, sebagai bentuk kecil dari rasa terima kasih atas keyakinan dan dukungan yang menjadi bagian dari perjalanan saya.
3. Pekerjaan: Belajar Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Perjalanan pendidikan saya berjalan berdampingan dengan perjalanan profesional. Dunia kerja mengajarkan saya hal-hal yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kuliah: bagaimana mengambil keputusan dalam situasi nyata, berkomunikasi dengan berbagai karakter, menyelesaikan masalah, bernegosiasi, menjaga hubungan profesional, dan bertanggung jawab terhadap hasil.
Dalam perjalanan karier, saya berkembang di bidang Purchasing dan Procurement, termasuk vendor sourcing, negosiasi, supplier management, cost control, inventory, serta koordinasi dengan berbagai pihak. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa ilmu manajemen harus memiliki tempat dalam praktik. Knowledge becomes meaningful when it creates value.
Pendidikan Magister Manajemen Sumber Daya Manusia juga memberikan perspektif yang berbeda. Saya semakin memahami bahwa organisasi bukan hanya tentang target, biaya, proses, dan angka. Di dalamnya terdapat manusia yang bekerja, berkomunikasi, memimpin, belajar, dan berkembang. Karena itu, kemampuan profesional perlu berjalan bersama kemampuan memahami manusia.
Bagi saya, pengalaman kerja dan pendidikan bukan dua perjalanan yang terpisah. Keduanya saling melengkapi. Pekerjaan memberikan pengalaman nyata, sementara pendidikan membantu saya melihat pengalaman tersebut dengan perspektif yang lebih luas.
4. Circle: Kita Tidak Tumbuh Sendirian
Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk berjalan sepanjang jalan, tetapi untuk hadir pada bagian tertentu dari perjalanan dan meninggalkan pelajaran yang berarti. Mereka bisa datang dari keluarga, teman, rekan kerja, dosen, maupun lingkungan profesional.
Saya belajar bahwa support system tidak selalu berarti seseorang harus membantu menyelesaikan masalah kita. Terkadang, cukup dengan mendengarkan, memberikan semangat, berbagi pengalaman, atau sekadar mengatakan “lanjutkan”, seseorang sudah membantu kita untuk tetap berdiri.
Untuk setiap orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan akademik dan profesional saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, terima kasih. Every connection, every conversation, and every lesson has its own place in the journey.
Saya percaya bahwa circle yang baik bukan hanya membuat kita merasa nyaman, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Karena lingkungan yang tepat dapat membuat kita berani bermimpi lebih jauh tanpa kehilangan pijakan.
5. Apa yang Sebenarnya Saya Dapatkan dari S2?
Jika ditanya apa yang saya dapatkan dari pendidikan magister selain gelar, jawabannya tentu lebih dari satu. Saya mendapatkan cara berpikir yang lebih terstruktur, kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, keberanian menerima kritik, dan kesadaran bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Saya juga belajar bahwa pencapaian akademik bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru setelah menyelesaikan satu tahap, tanggung jawab berikutnya menjadi lebih besar: bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam pekerjaan, dalam kepemimpinan, dan dalam kehidupan.
“A degree may open a door, but character, competence, and consistency determine how far we can walk through it.”
6. Harapan Selanjutnya: The Next Chapter
Menyelesaikan S2 bukan berarti perjalanan selesai. It is simply the beginning of another chapter. Setelah perjalanan akademik ini selesai, saya ingin membawa seluruh pengalaman yang telah saya kumpulkan ke tahap profesional berikutnya.
Saya ingin terus berkembang di bidang Purchasing dan Procurement, memperkuat kemampuan dalam vendor sourcing, commercial negotiation, supplier management, cost control, dan leadership. Saya ingin berada di lingkungan yang memberikan ruang untuk belajar, mengambil tanggung jawab yang lebih besar, memperbaiki proses, dan memberikan kontribusi nyata bagi organisasi.
Saya juga ingin terus mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Bagi saya, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memiliki jabatan, tetapi tentang kemampuan memberikan arah, membangun kepercayaan, mendengarkan orang lain, mengambil keputusan, dan membantu tim berkembang.
Ke depan, saya tidak ingin hanya mengejar posisi. Saya ingin mengejar impact. Jabatan dapat berubah, perusahaan dapat berubah, dan keadaan dapat berubah, tetapi nilai yang kita berikan kepada orang lain dan organisasi adalah sesuatu yang akan terus memiliki arti.
7. Untuk Siapa Pun yang Sedang Berjuang
Jika tulisan ini sampai kepada seseorang yang sedang berada di tengah perjalanan pendidikan, karier, atau kehidupan, saya ingin menyampaikan satu hal: jangan terlalu cepat membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain.
Setiap orang memiliki starting point, tanggung jawab, kesempatan, dan waktunya masing-masing. Ada yang sampai lebih cepat. Ada yang harus berputar lebih jauh. Ada yang terlihat berjalan tanpa hambatan, sementara yang lain harus melewati banyak hal dalam diam.
Tidak apa-apa. Your journey is still valid.
Jangan merasa kecil hanya karena belum sampai. Jangan merasa tertinggal hanya karena orang lain sudah lebih dahulu mencapai sesuatu. Selama kita masih belajar, masih berusaha, dan masih memiliki keberanian untuk melangkah, perjalanan itu belum selesai.
“Keep learning. Keep growing. Keep moving forward. The best chapter may still be ahead.”
Penutup: Bukan Tentang Gelar, Tetapi Tentang Perjalanan
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa gelar Magister Manajemen Sumber Daya Manusia bukanlah mahkota yang membuat seseorang lebih tinggi dari orang lain. Gelar hanyalah simbol dari proses panjang yang pernah dijalani.
Yang lebih penting adalah apa yang berubah di dalam diri setelah perjalanan tersebut: cara berpikir yang lebih matang, kemampuan yang bertambah, rasa syukur yang semakin besar, dan kesadaran bahwa keberhasilan selalu memiliki cerita di baliknya.
Saya bersyukur telah sampai di titik ini. Bersyukur atas keluarga yang menjadi rumah, pekerjaan yang menjadi ruang belajar, orang-orang yang hadir sebagai support system, serta setiap tantangan yang secara perlahan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat.
One chapter has been completed. Now, I am ready for the next one.
Semoga ilmu yang saya dapatkan tidak berhenti menjadi gelar. Semoga pengalaman yang saya miliki tidak berhenti menjadi cerita. Dan semoga perjalanan berikutnya membawa saya pada kesempatan untuk terus belajar, berkarya, memimpin, dan memberikan manfaat yang lebih besar.
“Because the real achievement is not simply reaching the destination, but becoming a better person along the way.”
Dody Pernanda
Magister Manajemen Sumber Daya Manusia
Universitas Pamulang | 2026

