Oleh: Avivah Sri Handayani
Bagaimana Seorang Ibu, Profesional, Pengusaha, dan Mahasiswa S2 Belajar Mengelola Banyak Peran
“Kok bisa sempat?”
Pertanyaan itu mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar.
Bagaimana bisa bekerja sebagai seorang profesional, memimpin pekerjaan dengan berbagai tanggung jawab, menjalankan bisnis, mengurus tiga anak, sekaligus masih kuliah Magister Manajemen?
Jawaban jujurnya sederhana:
Saya tidak selalu bisa.
Ada hari ketika pekerjaan selesai tetapi tugas kuliah belum tersentuh. Ada malam ketika tugas kuliah selesai, tetapi saya sadar anak-anak mungkin merasa ibunya terlalu sibuk. Ada saat ketika bisnis membutuhkan keputusan, sementara pekerjaan kantor juga sedang berada dalam kondisi yang tidak bisa ditinggalkan.
Dan ada hari ketika saya hanya ingin tidur.
Tetapi keesokan harinya, semuanya dimulai lagi.
Di situlah saya kemudian menyadari sesuatu:
Mungkin masalahnya bukan bagaimana mendapatkan lebih banyak waktu.
Karena sebanyak apa pun kita menginginkannya, satu hari tetap hanya memiliki 24 jam.
Masalah sebenarnya adalah:
Apa yang kita pilih untuk dilakukan dengan 24 jam tersebut?
Banyak Peran, Satu Kehidupan
Dalam satu hari, saya bisa menjadi profesional, pemimpin, ibu, pengusaha, sekaligus mahasiswa. Masing-masing memiliki tuntutan yang berbeda. Dan saya pernah berpikir bahwa solusinya adalah membuat jadwal yang semakin detail. Ternyata tidak cukup.
Karena yang kita kelola bukan hanya waktu, tetapi juga energi, fokus, dan prioritas.
Saya mulai belajar bahwa tidak semua hal harus dilakukan sekaligus. Ada yang harus diselesaikan segera, ada yang bisa dijadwalkan, ada yang bisa didelegasikan, dan ada yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk nyata dari priority management.
Kita tidak bisa mengerjakan semuanya. Tetapi kita bisa memilih apa yang paling memberikan dampak.
Dari Mengerjakan Menjadi Mengelola
Semakin besar tanggung jawab pekerjaan, saya semakin memahami bahwa seorang leader tidak harus menjadi orang yang mengerjakan semuanya.
Dulu, ketika ada masalah, refleks saya adalah turun tangan.
Sekarang saya lebih sering bertanya:
“Siapa yang tepat untuk menangani ini?”
Di situlah saya belajar tentang delegation, accountability, monitoring, dan controlling.
Leadership bukan tentang menjadi orang yang paling sibuk.
Leadership adalah memastikan pekerjaan tetap berjalan melalui orang dan sistem, bukan hanya melalui diri kita sendiri.
Ketika Teori S2 Bertemu Kehidupan Nyata
Menariknya, semakin lama belajar Magister Manajemen, semakin sering saya menemukan teori yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
- Strategic Management membantu saya melihat prioritas dan arah.
- Financial Management mengajarkan bagaimana membaca biaya, cash flow, risiko, dan keputusan bisnis.
- Human Resource Management membantu memahami orang dan organisasi.
- Leadership membantu ketika harus mengambil keputusan dan memimpin tim.
- Decision Making membantu ketika pilihan yang tersedia sama-sama memiliki risiko.
Akhirnya saya menyadari:
Kampus bukan satu-satunya tempat saya belajar Management. Kehidupan saya sendiri adalah laboratoriumnya.
Tidak Harus Selalu Seimbang
Saya juga berhenti mengejar apa yang disebut perfect work-life balance. Karena kehidupan nyata tidak selalu seimbang. Ada hari ketika pekerjaan membutuhkan saya lebih banyak. Ada saat ketika anak-anak membutuhkan perhatian. Ada periode ketika bisnis menjadi prioritas. Ada waktu ketika kuliah harus diselesaikan. Bagi saya, balance bukan berarti memberikan waktu yang sama kepada semuanya.
Balance adalah memberikan perhatian yang tepat kepada hal yang paling penting pada waktu yang tepat.
Dan yang tidak kalah penting, belajar hadir sepenuhnya ketika sedang menjalankan peran tersebut.
Saya Masih Belajar
Apakah saya sudah berhasil mengelola semuanya? Belum.
Saya masih pernah kewalahan. Masih ada jadwal yang berantakan, keputusan yang salah, pekerjaan yang tertunda, dan rasa bersalah sebagai seorang ibu. Tetapi mungkin memang bukan kesempurnaan yang kita cari. Kita hanya perlu menjadi sedikit lebih baik dalam menentukan prioritas dari hari ke hari.
Karena waktu kita terbatas.
Energi kita terbatas.
Sumber daya kita terbatas.
Tetapi kebutuhan dan tanggung jawab tidak pernah benar-benar habis.
Dan di situlah saya merasa ilmu Management menjadi sangat relevan, bukan hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk kehidupan.
Mengelola waktu. Mengelola energi. Mengelola prioritas. Mengelola keputusan. Mengelola orang. Dan yang paling penting, mengelola diri sendiri.
Saya tidak memiliki 24 jam yang lebih panjang dibandingkan orang lain. Saya hanya belajar menggunakan 24 jam yang saya miliki dengan lebih sadar. Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang saya bawa dari ruang kelas Magister Manajemen ke kehidupan nyata:
Kita tidak membutuhkan lebih banyak waktu. Kita membutuhkan prioritas yang lebih jelas, keputusan yang lebih baik, dan keberanian untuk fokus pada apa yang benar-benar penting.

