Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

KETIKA SANG PENGKRITIK MASUK ISTANA

Dunia Magister by Dunia Magister
October 3, 2026
Reading Time: 8 mins read
KETIKA SANG PENGKRITIK MASUK ISTANA
Share on FacebookShare on Twitter

Rocky Gerung, Kekuasaan, dan Ujian Konsistensi

Ada satu pelajaran penting dari politik yang berkali-kali dipertontonkan sejarah: jangan pernah menaruh kesetiaan pada seorang figur melebihi kesetiaan pada nilai yang kita yakini.

Sebab manusia bisa berubah. Konstelasi politik bisa berubah. Kepentingan bisa berubah. Bahkan seseorang yang kemarin berdiri di luar pagar kekuasaan, hari ini bisa saja mendapat tempat di dalamnya.

Itulah yang kembali menjadi bahan perbincangan setelah Rocky Gerung dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026. Rocky selama bertahun-tahun dikenal publik sebagai akademikus, filsuf, dan intelektual publik yang kerap menyampaikan kritik keras terhadap kekuasaan. Kini, ia menjadi bagian dari institusi yang berada di lingkaran pemerintahan.

Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin mengejutkan. Bagi sebagian lainnya, mungkin justru dianggap sebagai konsekuensi logis dari dinamika politik.

Tetapi menurut saya, persoalan terpenting bukanlah apakah Rocky masuk ke Istana.

Persoalan terpenting adalah: apakah seseorang masih mampu mempertahankan keberanian intelektualnya ketika ia sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan?

Di situlah pertanyaan sesungguhnya bermula.

Jangan Menyembah Figur

Kita terlalu sering membangun politik dengan cara yang keliru.

Kita mencari tokoh untuk dipuja, bukan gagasan untuk diuji.

Kita mencari idola yang selalu benar, bukan pemikiran yang terus-menerus dikritisi.

Ketika seorang tokoh mengucapkan sesuatu yang sesuai dengan keyakinan kita, kita menganggapnya sebagai suara kebenaran. Tetapi ketika tokoh yang sama mengambil keputusan yang berbeda dari harapan kita, kita merasa dikhianati.

Padahal, manusia bukan monumen.

Manusia dapat berubah posisi, berubah strategi, berubah lingkungan, bahkan berubah pandangan.

Karena itu, jangan pernah menyerahkan akal sehat kepada seorang figur.

Tokoh publik boleh kita hormati. Pemikirannya boleh kita pelajari. Kritiknya boleh kita apresiasi.

Tetapi jangan pernah memberikan kepadanya hak untuk berpikir menggantikan kita.

Dari Pengkritik Menjadi Bagian dari Kekuasaan

Rocky Gerung sekarang menghadapi situasi yang berbeda.

Ia bukan lagi sekadar komentator yang berdiri di luar kekuasaan dan memberikan kritik dari luar. Sebagai anggota Wantimpres, ia memiliki posisi formal untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Menariknya, setelah dilantik Rocky sendiri menjelaskan bahwa Wantimpres memiliki fungsi etis untuk melihat dampak kebijakan, memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan, serta melakukan pemantauan dan evaluasi. Ia bahkan menyebut pentingnya menunjukkan apa yang dianggap keliru dalam persepsi publik terhadap kekuasaan.

Kalau demikian, justru di sinilah kita harus menunggu.

Bukan menunggu Rocky menjadi oposisi.

Bukan pula menunggu Rocky berubah menjadi pendukung pemerintah.

Tetapi menunggu apakah suara kritis tetap hidup ketika kritik tersebut diarahkan kepada kekuasaan yang kini memberinya ruang.

Sebab kritik yang mudah dilakukan dari luar kekuasaan belum tentu mudah dilakukan ketika seseorang sudah berada di dalam lingkarannya.

Di sinilah jabatan menjadi ujian.

Bukan sekadar penghargaan.

Machiavelli dan Politik Kepentingan

Niccolò Machiavelli sering dibaca sebagai pemikir yang menggambarkan politik secara realistis: kekuasaan mempunyai logika sendiri, dan seorang penguasa sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu sejalan dengan moralitas ideal.

Tetapi ada pelajaran yang lebih penting daripada sekadar mengutip The Prince untuk mengatakan bahwa politik adalah permainan kepentingan.

Pelajarannya adalah:

jangan melihat politik dengan kacamata yang terlalu naif.

Politik memang penuh kompromi.

Ada negosiasi.

Ada pertukaran kepentingan.

Ada perubahan koalisi.

Ada orang yang hari ini berseberangan dan besok duduk dalam satu ruangan.

Namun semua itu tidak otomatis berarti seseorang telah mengkhianati prinsipnya.

Begitu pula sebaliknya, menerima jabatan tidak otomatis membuktikan seseorang telah meninggalkan seluruh kritik dan gagasannya.

Karena itu, yang harus dinilai bukan semata-mata di mana seseorang duduk, melainkan apa yang ia lakukan setelah duduk di sana.

Aristoteles: Kebenaran Harus Lebih Tinggi dari Figur

Ada satu prinsip intelektual yang jauh lebih penting daripada kesetiaan kepada tokoh: kesetiaan kepada kebenaran.

Kita boleh mengagumi Rocky Gerung.

Kita boleh tidak menyukainya.

Kita boleh menganggap kritik-kritiknya tajam.

Kita juga boleh menguji dan membantah argumennya.

Tetapi jangan menjadikan Rocky sebagai standar kebenaran.

Begitu pula terhadap Prabowo, Jokowi, Anies, Ganjar, Megawati, atau siapa pun.

Demokrasi akan menjadi miskin jika masyarakat hanya berpindah dari satu kultus figur ke kultus figur lainnya.

Yang dibutuhkan justru masyarakat yang mampu mengatakan:

“Saya mendukung gagasan ini karena argumennya benar, bukan karena siapa yang mengucapkannya.”

Dan sebaliknya:

“Saya menolak gagasan ini karena argumentasinya bermasalah, meskipun disampaikan oleh tokoh yang saya kagumi.”

Itulah kedewasaan politik.

Jangan Kecewa Karena Idola Berubah

Barangkali sebagian orang hari ini merasa kecewa melihat Rocky Gerung berada di Istana.

Tetapi mungkin kekecewaan itu justru menjadi cermin bagi kita sendiri.

Mengapa kita kecewa?

Karena selama ini kita menganggap seorang tokoh harus selalu berada di posisi yang sama dengan kita?

Ataukah karena kita telah menganggapnya sebagai simbol moral yang tidak boleh berubah?

Jika jawabannya yang kedua, mungkin persoalannya bukan hanya pada Rocky.

Mungkin kita sendiri yang terlalu jauh mengkultuskan figur.

Tokoh publik bukan nabi.

Tokoh intelektual bukan pemilik kebenaran.

Aktivis bukan manusia tanpa kepentingan.

Politisi bukan malaikat.

Dan mereka yang pernah mengkritik kekuasaan pun tetap manusia yang memiliki hak untuk mengambil keputusan politiknya sendiri.

Yang menjadi tugas publik bukan mengawal kesucian seorang tokoh.

Tugas publik adalah mengawal kekuasaan.

Justru Sekarang Kita Harus Lebih Kritis

Pelantikan Rocky sebagai Wantimpres tidak seharusnya membuat kita berhenti berpikir.

Sebaliknya, justru sekarang kita mempunyai alasan lebih kuat untuk menguji apa yang akan terjadi.

Apakah kritiknya terhadap kekuasaan tetap tajam?

Apakah ia akan berani memberikan pertimbangan yang berbeda ketika kebijakan pemerintah dianggap bermasalah?

Apakah ia akan tetap menggunakan logika dan argumentasi ketika berhadapan dengan keputusan yang tidak sesuai dengan pandangannya?

Atau justru sebaliknya, posisi baru tersebut akan membuat suara kritis menjadi lebih lunak?

Waktu yang akan menjawabnya.

Dan publik tidak perlu terburu-buru memberikan vonis.

Biarkan rekam jejak berbicara.

Politik Bukan Tempat Menyembah

Pada akhirnya, saya tidak melihat persoalan Rocky Gerung sebagai persoalan tentang seorang Rocky semata.

Ini adalah persoalan tentang cara kita sebagai masyarakat memandang politik.

Kita harus berhenti mencari manusia sempurna.

Berhenti mencari tokoh yang harus selalu berada di pihak kita.

Berhenti menyembah figur publik.

Karena politik bukan panggung tempat manusia tanpa cacat berkuasa.

Politik adalah ruang tempat kepentingan, gagasan, kompromi, kekuasaan, dan nilai saling berhadapan.

Maka ukuran kita seharusnya sederhana:

bukan siapa yang berbicara, tetapi apa yang dibicarakan.

Bukan di mana seseorang berdiri, tetapi prinsip apa yang ia pertahankan.

Bukan jabatan apa yang ia terima, tetapi bagaimana ia menggunakan jabatan tersebut.

Rocky Gerung kini berada di dalam Wantimpres. Itu fakta politik hari ini.

Apakah ia akan menjadi bagian dari kekuasaan yang sekadar memberikan legitimasi?

Ataukah ia justru menggunakan posisinya untuk tetap menjadi suara kritis dari dalam?

Pertanyaan itu belum memiliki jawaban final.

Dan justru karena itulah publik harus tetap mengawasi.

Sebab kekuasaan tidak membutuhkan penggemar. Kekuasaan membutuhkan kritik yang jujur.

Dan masyarakat demokratis tidak membutuhkan idola.

Masyarakat demokratis membutuhkan warga yang berpikir.

Kalau mau, tulisan ini juga bisa saya naikkan satu tingkat menjadi opini media yang lebih “pedas”, satir, dan bernuansa kiri—dengan judul yang lebih provokatif seperti “Dari Kritik ke Kursi Kekuasaan: Ketika Rocky Gerung Masuk Istana”.

Tags: BuruhDunia MagisterMahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaRalezROCKY GERUNGSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
KETERASINGAN KELAS PEKERJA: PENGKHIANATAN NYATA ATAS PERJUANGAN RUU PERLINDUNGAN KETENAGAKERJAAN

KETERASINGAN KELAS PEKERJA: PENGKHIANATAN NYATA ATAS PERJUANGAN RUU PERLINDUNGAN KETENAGAKERJAAN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM NUKLIR NURUL KHOFIFAH LESTARi OLAHRAGA ONIC PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister