Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

KETERASINGAN KELAS PEKERJA: PENGKHIANATAN NYATA ATAS PERJUANGAN RUU PERLINDUNGAN KETENAGAKERJAAN

Dunia Magister by Dunia Magister
October 3, 2026
Reading Time: 6 mins read
KETERASINGAN KELAS PEKERJA: PENGKHIANATAN NYATA ATAS PERJUANGAN RUU PERLINDUNGAN KETENAGAKERJAAN
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Buruh Serabutan — Lihat dan Tersenyum

Hari ini, beranda media sosial kita dibombardir poster-poster rencana Aksi Akbar Kaum Buruh pada 6 Oktober 2026. Sebelas tuntutan digelorakan. Suara perlawanan kembali dikonsolidasikan.

Namun, di tengah momentum yang seharusnya menjadi titik penting perjuangan kelas pekerja, kita justru dihadapkan pada kenyataan yang mengkhawatirkan.

Di detik-detik krusial pembahasan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan, masa depan pekerja masih berhadapan dengan ancaman yang sama: pemagangan dan alih daya (outsourcing) yang berpotensi mempertahankan atau memperluas pola hubungan kerja yang tidak memberikan kepastian dan perlindungan memadai bagi pekerja.

Yang lebih menyedihkan, suara perlawanan terhadap persoalan tersebut justru kerap berhadapan dengan tembok keheningan dari sebagian pekerja tetap.

Sebagian menganggap persoalan pemagangan dan alih daya bukan persoalan mereka. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai “isu tidak populer.”

Mengapa kita bisa sampai pada titik ini?

Ketika Solidaritas Mulai Kehilangan Makna

Persoalannya bukan semata-mata pada aturan hukum. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah hilangnya kesadaran bahwa kelas pekerja memiliki kepentingan yang saling berkaitan.

Ketika seorang pekerja tetap merasa aman karena hari ini memiliki status kerja yang lebih pasti, ia mungkin merasa persoalan pekerja kontrak, pekerja alih daya, atau peserta magang bukan bagian dari kehidupannya.

Padahal, pasar kerja tidak pernah berhenti berubah.

Apa yang hari ini terjadi pada pekerja lain, bukan tidak mungkin menjadi kenyataan bagi dirinya, keluarganya, atau generasi setelahnya.

Di sinilah kepemimpinan serikat pekerja diuji.

Serikat pekerja seharusnya bukan sekadar menjadi kendaraan untuk mempertahankan kepentingan anggotanya yang sudah mapan. Serikat pekerja memiliki tanggung jawab yang lebih besar: memperjuangkan martabat dan masa depan kelas pekerja secara keseluruhan.

Jika sebagian pengurus serikat pekerja memilih diam karena menganggap persoalan tersebut tidak menyentuh anggotanya secara langsung, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan melemahnya fungsi utama gerakan serikat pekerja: solidaritas.

Jangan Menunggu Bom Waktu Meledak di Rumah Sendiri

Kita perlu memahami satu hal sederhana.

Pemagangan dan alih daya bukan hanya persoalan pekerja hari ini. Keduanya berkaitan dengan wajah pasar kerja Indonesia di masa depan.

Anak-anak kita akan memasuki dunia kerja. Saudara kita akan mencari pekerjaan. Tetangga kita mungkin kehilangan pekerjaan. Generasi berikutnya akan berhadapan dengan struktur hubungan kerja yang dibentuk oleh keputusan politik dan kebijakan ketenagakerjaan yang kita biarkan terjadi hari ini.

Karena itu, perjuangan terhadap RUU Perlindungan Ketenagakerjaan tidak boleh dipandang sebagai perjuangan satu federasi, satu serikat pekerja, atau satu kelompok pekerja saja.

Ini adalah perjuangan lintas generasi.

Hukum ketenagakerjaan tidak dibuat hanya untuk satu atau dua tahun. Ia dapat membentuk hubungan industrial selama satu dekade, bahkan lebih.

Kita telah mengalami bagaimana pengaturan ketenagakerjaan berubah dari waktu ke waktu. UU No. 13 Tahun 2003 pernah menjadi salah satu fondasi utama hukum ketenagakerjaan Indonesia. Kemudian hadir berbagai perubahan regulasi, termasuk rezim UU Cipta Kerja, yang membawa perubahan besar terhadap pengaturan hubungan kerja, termasuk pemagangan dan alih daya.

Pengalaman tersebut seharusnya menjadi pelajaran.

Setiap pasal dalam undang-undang ketenagakerjaan hari ini dapat menjadi kenyataan hidup pekerja Indonesia belasan tahun ke depan.

Maka, tidak ada alasan bagi kelas pekerja untuk bersikap apatis.

Keterasingan dari Sesama Pekerja

Dalam konteks inilah kita dapat membaca kembali gagasan Karl Marx mengenai keterasingan (alienation).

Keterasingan tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan pekerjaannya atau hasil produksinya. Ia juga dapat dibaca dalam konteks hubungan antarmanusia—ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan sesamanya dan melihat orang lain semata-mata sebagai pesaing.

Dalam dunia kerja, fenomena tersebut dapat muncul dalam bentuk yang sangat sederhana:

Buruh diadu dengan buruh.

Pekerja tetap berhadapan dengan pekerja kontrak.

Pekerja langsung berhadapan dengan pekerja alih daya.

Pekerja lama berhadapan dengan pekerja baru.

Pekerja lokal berhadapan dengan pekerja pendatang.

Dan pada akhirnya, pekerja saling memandang bukan sebagai saudara seperjuangan, melainkan sebagai kompetitor dalam memperebutkan ruang yang terbatas di pasar kerja.

Ketika kondisi tersebut terjadi, solidaritas perlahan-lahan terkikis.

Empati menjadi mahal.

Persaudaraan menjadi transaksional.

Dan perjuangan bersama berubah menjadi perjuangan masing-masing.

Bukankah keadaan seperti inilah yang justru membuat kelas pekerja semakin lemah?

Serikat Pekerja Harus Keluar dari Zona Nyaman

Serikat pekerja tidak boleh hanya hadir ketika kepentingan anggotanya terancam secara langsung.

Serikat pekerja harus hadir sebelum ancaman itu datang.

Sebab fungsi serikat pekerja bukan sekadar menyelesaikan perselisihan setelah masalah terjadi. Serikat pekerja juga memiliki fungsi membangun kesadaran, mengorganisir kekuatan, dan memperjuangkan kebijakan yang memberikan perlindungan bagi pekerja secara luas.

Karena itu, ketika sebagian pekerja merasa aman dan memilih diam terhadap persoalan pemagangan atau alih daya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan:

“Apakah masalah itu sudah menimpa kita?”

Tetapi:

“Apakah kita akan membiarkan masalah itu menimpa saudara kita hari ini dan generasi kita besok?”

Inilah ukuran sesungguhnya dari solidaritas.

Solidaritas bukan ketika kita berdiri bersama orang yang memiliki kepentingan yang sama persis dengan kita.

Solidaritas adalah ketika kita bersedia berdiri bersama mereka yang sedang menghadapi persoalan, meskipun persoalan itu belum menimpa diri kita sendiri.

Jangan Biarkan Buruh Terasing dari Buruh

Jika kaum pekerja terus menganggap dirinya berbeda berdasarkan status kerja, jabatan, perusahaan, sektor, atau organisasi serikat, maka kekuatan kolektif buruh akan terus terfragmentasi.

Dan ketika buruh terpecah, ruang perjuangan semakin sempit.

Karena itu, perjuangan terhadap RUU Perlindungan Ketenagakerjaan harus dikembalikan pada satu kesadaran sederhana:

kita mungkin berbeda tempat kerja, berbeda status hubungan kerja, berbeda serikat, bahkan berbeda sektor industri—tetapi kita tetap berada dalam satu kelas pekerja.

Jangan biarkan sistem membuat buruh saling berhadapan.

Jangan biarkan pekerja tetap merasa aman sementara pekerja lainnya dibiarkan sendiri.

Jangan biarkan kepentingan jangka pendek mengorbankan masa depan generasi berikutnya.

Sebab ketika kita membiarkan satu kelompok pekerja kehilangan perlindungan hari ini, kita sedang membuka kemungkinan bahwa perlindungan itu akan hilang bagi kelompok kita sendiri di kemudian hari.

Perjuangan kelas pekerja tidak akan pernah dimenangkan oleh pekerja yang berjalan sendiri-sendiri.

Kesadaran melahirkan solidaritas.

Solidaritas melahirkan kekuatan.

Dan kekuatan pekerja hanya akan berarti ketika digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun pekerja yang ditinggalkan sendirian dalam perjuangan.

Tangerang, 2 Oktober 2026

Buruh Serabutan — Lihat dan Tersenyum

Tags: BuruhDunia MagisterK3Mahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaSDMSerikat Pekerja
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Membangun Kesadaran Berorganisasi: Dari Konsepsi Strategis ke Langkah Taktis dan Teknis

Membangun Kesadaran Berorganisasi: Dari Konsepsi Strategis ke Langkah Taktis dan Teknis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM NUKLIR NURUL KHOFIFAH LESTARi OLAHRAGA ONIC PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister