Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

Menolak Menjadi Bodoh

Dunia Magister by Dunia Magister
September 7, 2026
Reading Time: 4 mins read
Menolak Menjadi Bodoh
Share on FacebookShare on Twitter

“Menolak jadi bodoh di tengah sistem yang memelihara kebodohan adalah bentuk perlawanan paling radikal yang bisa kita lakukan.”

Ada masa ketika kebodohan bukan lagi sekadar persoalan tidak tahu. Ia bisa berubah menjadi sesuatu yang sengaja dipelihara. Ketika manusia tidak diberi ruang untuk bertanya, ketika kritik dianggap sebagai ancaman, ketika informasi hanya diberikan sesuai kepentingan penguasa, dan ketika masyarakat dibiasakan menerima segala sesuatu tanpa berpikir, maka kebodohan perlahan menjadi bagian dari sistem.

Di situlah persoalannya menjadi serius.

Sebab manusia yang tidak mau berpikir akan lebih mudah diarahkan. Manusia yang tidak mau bertanya akan lebih mudah menerima. Dan manusia yang kehilangan keberanian untuk mempertanyakan keadaan akan lebih mudah diyakinkan bahwa ketidakadilan adalah sesuatu yang normal.

Karena itu, berpikir adalah tindakan politik. Bertanya adalah bentuk keberanian. Membaca adalah perlawanan. Dan mempertahankan nalar adalah cara menjaga kemerdekaan.

Sistem yang nyaman dengan kebodohan biasanya tidak takut pada orang yang marah. Ia justru lebih takut kepada orang yang mulai memahami.

Orang yang marah mungkin bisa dibungkam dengan janji, kompensasi, atau sekadar hiburan. Tetapi orang yang memahami akar persoalan akan mulai bertanya: Mengapa keadaan ini terjadi? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dirugikan? Mengapa aturan dibuat seperti ini? Mengapa ketidakadilan terus berulang?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal dari perubahan besar.

Maka jangan heran jika dalam banyak keadaan, pengetahuan tidak selalu disukai oleh mereka yang menikmati ketimpangan. Sebab pengetahuan membuat manusia mampu membedakan antara fakta dan propaganda, antara kepentingan publik dan kepentingan segelintir orang, antara kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat dan kebijakan yang hanya dibungkus dengan bahasa yang indah.

Menolak menjadi bodoh bukan berarti merasa paling pintar.

Justru sebaliknya. Menolak menjadi bodoh berarti menyadari bahwa kita tidak pernah tahu semuanya. Karena itu kita membaca, berdiskusi, mendengar, menguji informasi, dan berani mengubah pendapat ketika menemukan kebenaran yang lebih kuat.

Kebodohan yang paling berbahaya bukanlah tidak memiliki pengetahuan.

Kebodohan yang paling berbahaya adalah merasa sudah tahu, padahal tidak pernah mau belajar.

Di tengah banjir informasi hari ini, tantangannya bahkan semakin rumit. Kita hidup dalam zaman ketika informasi begitu mudah didapat, tetapi kebenaran justru semakin sulit dibedakan dari kebohongan. Algoritma dapat membuat kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Propaganda dapat dikemas seperti berita. Kebohongan dapat diulang begitu sering sampai tampak seperti kebenaran.

Maka tugas kita bukan sekadar menjadi manusia yang melek informasi, tetapi menjadi manusia yang melek berpikir.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”

Tanyakan pula, “Mengapa ini terjadi?”

Jangan berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang mengatakan?”

Tanyakan, “Apa kepentingannya?”

Dan jangan hanya menerima sebuah kebijakan karena disebut demi kepentingan rakyat.

Tanyakan: rakyat yang mana, kepentingan siapa, dan siapa yang akhirnya mendapatkan keuntungan?

Inilah mengapa pendidikan sejatinya tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pandai menghafal. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berani berpikir, berani berbeda pendapat, dan berani mempertanyakan sesuatu yang dianggap sudah biasa.

Sebab masyarakat yang kritis mungkin lebih sulit dikendalikan, tetapi jauh lebih sulit ditipu.

Dan bagi saya, di situlah makna paling dalam dari sebuah perlawanan.

Perlawanan tidak selalu berbentuk demonstrasi besar, kepalan tangan, atau suara yang keras di jalanan. Kadang perlawanan dimulai dari tindakan yang sangat sederhana: membuka buku ketika orang lain memilih percaya begitu saja; memeriksa fakta ketika orang lain ikut menyebarkan; bertanya ketika semua orang memilih diam; dan mengatakan “tidak” ketika kebohongan dipaksa menjadi kebenaran.

Menolak menjadi bodoh adalah keputusan untuk tidak menyerahkan pikiran kita kepada siapa pun.

Sebab ketika seseorang berhasil menguasai pikiran manusia, ia tidak perlu lagi menguasai tubuhnya.

Karena itu, teruslah belajar.

Teruslah membaca.

Teruslah bertanya.

Teruslah merawat nalar.

Dan jangan pernah merasa bersalah karena memilih berpikir ketika banyak orang memilih untuk sekadar percaya.

Sebab di tengah sistem yang nyaman dengan manusia-manusia yang tidak berpikir, menjaga akal sehat adalah bentuk perlawanan.

Dan terkadang, perlawanan paling radikal bukanlah berteriak lebih keras, melainkan menolak menjadi bodoh.

Tags: BuruhDunia MagisterMahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaRalezSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Jangan Hanya Cetak Lulusan, Sekolah dan Kampus Harus Mengajarkan Dunia Kerja

Jangan Hanya Cetak Lulusan, Sekolah dan Kampus Harus Mengajarkan Dunia Kerja

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO Berserikat BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM OLAHRAGA ONIC Pangeran Sastra PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister