Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

STRESS DI TEMPAT KERJA: KETIKA PEKERJA BUKAN TIDAK KUAT, TETAPI BEBAN KERJANYA SUDAH TIDAK SEHAT

Dunia Magister by Dunia Magister
August 27, 2026
Reading Time: 8 mins read
STRESS DI TEMPAT KERJA: KETIKA PEKERJA BUKAN TIDAK KUAT, TETAPI BEBAN KERJANYA SUDAH TIDAK SEHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Pernah merasa bangun pagi tetapi sudah merasa lelah sebelum berangkat kerja?
Pernah merasa pekerjaan tidak pernah selesai, target semakin tinggi, waktu semakin sempit, tetapi tenaga dan pikiran semakin terkuras?

Kalau pernah, mungkin kita tidak sendirian.

Stress di tempat kerja merupakan persoalan yang sering dianggap sederhana. Tidak sedikit pekerja yang ketika mengeluh justru mendapatkan respons, “Namanya juga kerja, pasti capek.” Bahkan ada anggapan bahwa pekerja yang mengalami stress berarti kurang kuat menghadapi tekanan.

Menurut saya, cara pandang seperti itu perlu kita ubah.

Tidak semua stress terjadi karena pekerjanya lemah. Bisa jadi sistem kerjanya memang sedang tidak sehat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang buruk, seperti beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, rendahnya kendali terhadap pekerjaan, ketidakamanan kerja, diskriminasi, bullying, kurangnya dukungan, hingga ketidakjelasan peran, merupakan risiko psikososial yang dapat mengganggu kesehatan mental pekerja.

Mengapa pekerja bisa mengalami stress?

Stress biasanya tidak muncul begitu saja.

Ada proses yang terjadi ketika tuntutan pekerjaan lebih besar daripada kemampuan, sumber daya, waktu, atau dukungan yang dimiliki pekerja untuk menghadapinya.

ILO menjelaskan bahwa stress kerja dapat muncul ketika tekanan pekerjaan menjadi berlebihan atau tidak lagi dapat dikelola. Faktor penyebabnya antara lain beban kerja dan tempo kerja, jam kerja yang panjang, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, komunikasi organisasi yang buruk, hubungan dengan atasan dan rekan kerja, ketidakjelasan peran, ketidakamanan pekerjaan, serta konflik antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Artinya, kita tidak bisa hanya bertanya:

“Mengapa pekerja itu stress?”

Tetapi juga harus bertanya:

“Apa yang terjadi di tempat kerja sehingga pekerja mengalami stress?”

Pertanyaan kedua jauh lebih penting.

Target tinggi bukan selalu masalah. Target tanpa sumber daya adalah masalah.

Dalam dunia kerja, target memang diperlukan.

Perusahaan membutuhkan produktivitas. Pekerja juga membutuhkan target sebagai ukuran pencapaian.

Tetapi persoalannya muncul ketika target terus dinaikkan tanpa memperhitungkan jumlah pekerja, waktu kerja, kemampuan, fasilitas, teknologi, serta dukungan yang tersedia.

Misalnya, satu orang diberikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh dua atau tiga orang. Target tetap sama, bahkan meningkat. Waktu penyelesaian semakin pendek. Kesalahan sedikit langsung mendapatkan teguran.

Pada awalnya pekerja mungkin masih mampu bertahan.

Namun jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, tubuh dan pikiran akan membayar harganya.

Produktivitas yang dipaksakan tanpa memperhatikan kapasitas manusia pada akhirnya dapat berubah menjadi kelelahan, kehilangan motivasi, konflik, bahkan masalah kesehatan.

Stress juga bisa muncul dari ketidakpastian

Ada pekerja yang bukan hanya lelah karena pekerjaannya.

Mereka lelah karena tidak tahu apakah besok masih memiliki pekerjaan.

Ketidakpastian status kerja, ancaman PHK, perubahan organisasi, restrukturisasi, pengurangan tenaga kerja, pendapatan yang tidak memadai, atau masa depan karier yang tidak jelas dapat menjadi sumber tekanan psikologis.

ILO dalam laporan terbarunya mengenai lingkungan kerja psikososial menempatkan job insecurity, workload, autonomy, role clarity, working time, dan proses organisasi yang adil dan transparan sebagai faktor penting dalam kesehatan psikososial pekerja.

Jadi, ketika seorang pekerja terus merasa khawatir tentang masa depannya, jangan buru-buru mengatakan bahwa ia terlalu banyak berpikir.

Bisa jadi memang ada ketidakpastian nyata yang sedang ia hadapi.

Atasan juga punya peran besar

Ada satu faktor yang sering dilupakan: kepemimpinan.

Atasan yang hanya tahu memberikan target tetapi tidak tahu memberikan dukungan dapat menjadi sumber stress.

Sebaliknya, atasan yang mampu berkomunikasi, mendengarkan, memberikan kejelasan, menghargai kontribusi, dan membantu menyelesaikan masalah dapat menjadi pelindung bagi kesehatan mental pekerja.

WHO bahkan merekomendasikan pelatihan bagi manajer agar mampu mengenali tekanan emosional pada pekerja, membangun komunikasi terbuka, mendengarkan secara aktif, dan memahami bagaimana stressor pekerjaan memengaruhi kesehatan mental.

Menurut saya, kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang bagaimana membuat orang bekerja lebih keras, tetapi bagaimana membuat orang mampu bekerja dengan sehat dan berkelanjutan.

Jangan selalu menyalahkan pekerja

Dalam praktiknya, ketika produktivitas menurun, pekerja sering menjadi pihak pertama yang diperiksa.

“Kurang disiplin.”

“Kurang motivasi.”

“Kurang loyal.”

“Tidak mampu bekerja di bawah tekanan.”

Padahal mungkin persoalannya bukan semata-mata pada individu.

Bisa jadi pembagian kerja tidak seimbang.

Bisa jadi jumlah tenaga kerja tidak mencukupi.

Bisa jadi komunikasi buruk.

Bisa jadi target tidak realistis.

Bisa jadi jam kerja terlalu panjang.

Bisa jadi pekerja tidak memiliki ruang untuk menyampaikan masalah.

Bisa jadi lingkungan kerjanya penuh intimidasi.

ILO menegaskan bahwa risiko psikososial harus dipandang sebagai bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja, bukan sekadar persoalan pribadi pekerja. Pencegahannya perlu dilakukan melalui penilaian risiko, perbaikan organisasi kerja, komunikasi, partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan, dan dukungan sosial di tempat kerja.

Stress bukan hanya persoalan individu, tetapi persoalan organisasi

Ini yang menurut saya paling penting.

Kalau satu orang mengalami stress, mungkin kita perlu melihat kondisi individu tersebut.

Tetapi kalau banyak pekerja mengalami stress pada waktu yang sama, kita harus mulai melihat sistemnya.

Karena ketika masalah terjadi secara berulang dan dialami banyak orang, kemungkinan besar masalahnya bukan lagi sekadar persoalan individu.

Ada sesuatu dalam cara pekerjaan itu dirancang, dikelola, atau dipimpin yang perlu diperbaiki.

ILO pada 2026 bahkan memperkirakan lebih dari 840.000 kematian setiap tahun berkaitan dengan faktor risiko psikososial di tempat kerja, termasuk jam kerja panjang, ketidakamanan kerja, dan bullying atau harassment. Risiko tersebut juga dikaitkan dengan sekitar 45 juta tahun kehidupan sehat yang hilang setiap tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan psikososial di tempat kerja bukan persoalan kecil.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Menurut saya, ada tiga pihak yang memiliki tanggung jawab.

Pertama, perusahaan.

Perusahaan harus mulai melihat kesehatan mental dan stress sebagai bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja. Evaluasi bukan hanya mengenai kecelakaan kerja, tetapi juga mengenai beban kerja, jam kerja, tekanan target, hubungan kerja, bullying, komunikasi, kepemimpinan, dan keamanan kerja.

Kedua, pekerja.

Pekerja juga perlu mengenali batas dirinya. Jangan menganggap kelelahan ekstrem sebagai sesuatu yang harus selalu ditoleransi. Komunikasikan masalah, cari dukungan, dan jangan merasa malu untuk meminta pertolongan ketika tekanan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Ketiga, serikat pekerja.

Di sinilah peran serikat pekerja menjadi penting.

Serikat pekerja tidak hanya berbicara mengenai upah, PHK, atau perjanjian kerja bersama.

Kesehatan mental dan risiko psikososial juga merupakan bagian dari perjuangan untuk menciptakan kondisi kerja yang manusiawi.

Serikat pekerja dapat mendorong dialog sosial, menyuarakan keluhan pekerja, mengawal kebijakan K3, mendorong pencegahan bullying dan harassment, serta memastikan pekerja memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi kondisi kerjanya.

WHO juga menekankan bahwa upaya menangani kesehatan mental di tempat kerja perlu melibatkan pekerja dan perwakilannya secara bermakna.

Pada akhirnya, kita perlu mengubah cara pandang

Pekerja bukan mesin.

Mesin mungkin bisa dipaksa bekerja lebih lama dengan menambah bahan bakar atau mengganti komponennya.

Manusia berbeda.

Manusia memiliki tubuh, pikiran, emosi, keluarga, kebutuhan sosial, dan batas kemampuan.

Karena itu, ketika seorang pekerja mengalami stress, jangan langsung bertanya:

“Kenapa kamu tidak kuat?”

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apa yang membuat pekerjaan ini menjadi terlalu berat?”

Dan ketika banyak pekerja mulai mengalami stress, jangan hanya meminta mereka belajar mengelola stress.

Periksa juga sistem kerjanya.

Sebab tempat kerja yang sehat bukanlah tempat kerja tanpa tekanan.

Tempat kerja yang sehat adalah tempat kerja yang mampu mengelola tekanan secara adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, produktivitas tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan manusia.

Karena perusahaan membutuhkan produktivitas, tetapi produktivitas membutuhkan manusia yang sehat.

Sumber Referensi

  1. World Health Organization (WHO). Mental Health at Work, 2 September 2024. WHO menjelaskan berbagai risiko psikososial di tempat kerja, termasuk excessive workload, job insecurity, rendahnya job control, diskriminasi, bullying, dan kurangnya dukungan.
  2. International Labour Organization (ILO). Psychosocial Risks and Stress at Work, 10 November 2022. Membahas hubungan antara desain pekerjaan, beban kerja, kontrol pekerjaan, budaya organisasi, hubungan interpersonal, keamanan kerja, dan stress.
  3. International Labour Organization (ILO). The Psychosocial Working Environment: Global Developments and Pathways for Action, 22 April 2026. Membahas perkembangan global mengenai lingkungan kerja psikososial dan pentingnya pencegahan berbasis organisasi.
  4. International Labour Organization (ILO). 840,000 Deaths a Year Linked to Psychosocial Risks at Work, 22 April 2026. Menguraikan estimasi dampak global risiko psikososial terhadap kesehatan dan ekonomi.
  5. World Health Organization (WHO). World Mental Health Day 2024 – Mental Health at Work. Menekankan bahwa lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat menjadi faktor pelindung kesehatan mental, sementara kondisi kerja yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.
Tags: BuruhDunia MagisterMahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Menolak Menjadi Bodoh

Menolak Menjadi Bodoh

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO Berserikat BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM OLAHRAGA ONIC Pangeran Sastra PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister