Coba berpikir secara logika. Jika dalam satu dua kasus korupsi kita masih bisa menyebutnya oknum, mungkin itu masuk akal. Tapi ketika korupsi terus bermunculan, lintas sektor, lintas lembaga, lintas jabatan, dan terjadi berulang dari tahun ke tahun—pertanyaannya sederhana: apa masih pantas disebut kesalahan individu?
Sebuah sistem yang sehat tidak melahirkan koruptor secara masif. Sistem yang baik justru membatasi, mengunci, dan menghukum penyimpangan. Maka ketika yang terjadi justru sebaliknya—korupsi seperti diproduksi secara rutin—masalahnya bukan lagi pada moral personal semata, melainkan arsitektur sistem itu sendiri.
Narasi “ini hanya oknum” sering dipakai sebagai tameng. Tameng untuk menolak evaluasi. Tameng untuk menghindari tanggung jawab struktural. Padahal, sistem yang berulang kali meloloskan pelaku korupsi, melindungi yang kuat, dan menghukum yang lemah adalah sistem yang ikut berperan dalam kejahatan itu sendiri.
Korupsi tumbuh subur ketika:
- Pengawasan lemah atau mudah dikompromikan
- Kekuasaan terpusat tanpa kontrol efektif
- Penegakan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah
- Transparansi hanya jargon, bukan praktik
Jika pintu korupsi terbuka lebar, wajar bila banyak yang masuk. Menyalahkan individu tanpa membenahi sistem ibarat menyalahkan air yang mengalir, tanpa menutup keran yang bocor.
Jadi, bagi siapa pun yang masih bersikukuh mengatakan “ini cuma oknum”, mungkin sudah saatnya diam sejenak dan berpikir lebih jujur. Karena membela sistem yang rusak sama berbahayanya dengan melakukan korupsi itu sendiri.
Korupsi bukan sekadar soal orang jahat. Ini soal sistem yang memberi ruang, peluang, bahkan perlindungan. Dan selama sistem itu tidak dibongkar, jangan heran jika koruptor terus lahir—silih berganti, tanpa rasa malu.

