May Day 2026 kembali hadir. Namun pertanyaannya: masihkah ia menjadi hari perlawanan, atau justru telah berubah menjadi panggung kekuasaan?
Di tengah gegap gempita perayaan, kita justru melihat ironi. Buruh dikumpulkan di stadion, dipusatkan di ruang-ruang simbolik seperti GBK dan Monas. Mereka tidak lagi turun sebagai kekuatan yang menekan, tetapi hadir sebagai massa yang diarahkan bahkan, dalam banyak hal, diredam. Suara yang seharusnya menggugat, kini dibuai oleh janji-janji yang tak kunjung ditepati.
Retorika terus diproduksi, tetapi realitas tak banyak berubah. Upah layak masih menjadi mimpi panjang, jaminan kerja belum sepenuhnya pasti, dan perlindungan buruh kerap kalah oleh kepentingan investasi. Di titik ini, wajar jika muncul pertanyaan tajam: dari sekian banyak janji politik, apa yang benar-benar telah ditunaikan untuk buruh? Dan kapan terakhir kali tuntutan buruh dipenuhi tanpa harus melalui aksi panjang dan pengorbanan?
Ada persoalan yang lebih mendasar kesadaran kolektif. Apakah gerakan buruh hari ini masih berakar pada sejarah perjuangan, atau justru mulai tercerabut darinya? Organisasi boleh jadi berhasil mengumpulkan massa, tetapi apakah mereka juga berhasil membangun kesadaran?
Sejarah mencatat, May Day lahir dari darah dan perlawanan. Ia bukan sekadar seremoni. Namun di Indonesia, sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014, ada pergeseran makna yang patut direnungkan. Hari yang dahulu identik dengan aksi dan tekanan politik, perlahan berubah menjadi hari libur hari rekreasi.
Tentu, pengakuan negara terhadap May Day sebagai hari libur bisa dilihat sebagai kemenangan simbolik. Namun di sisi lain, ia juga membawa konsekuensi: perlawanan menjadi jinak, energi gerakan terdisipasi, dan momentum kritik kehilangan tajinya.
Apakah ini berarti buruh telah kalah? Tidak sesederhana itu. Namun yang jelas, medan perjuangan telah berubah. Jika dulu jalanan adalah ruang utama perlawanan, kini ia harus bersaing dengan panggung-panggung formal yang seringkali justru mereduksi makna perjuangan itu sendiri.
May Day seharusnya menjadi pengingat bahwa hak tidak pernah diberikan secara cuma-cuma—ia direbut, diperjuangkan, dan dijaga. Ketika hari itu berubah menjadi sekadar perayaan tanpa substansi, maka yang hilang bukan hanya makna, tetapi juga arah gerakan.
Maka, pertanyaan terpenting bagi May Day hari ini bukan lagi “berapa banyak massa yang hadir”, tetapi: apakah semangat perlawanan itu masih hidup?

