Ada satu hal yang lebih berbahaya dari kerusakan itu sendiri: ketika kerusakan terjadi secara perlahan, terstruktur, dan kita terbiasa melihatnya tanpa lagi merasa terganggu.
Kerusakan yang sistematis bukanlah ledakan besar yang langsung menghancurkan segalanya. Ia justru hadir dalam bentuk keputusan-keputusan kecil yang tampak wajar, kebijakan yang dibungkus bahasa teknis, dan praktik yang diulang sampai dianggap normal. Sedikit demi sedikit, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Yang dulu terasa janggal, kini diterima sebagai bagian dari “cara kerja sistem.”
Masalahnya bukan hanya pada mereka yang merusak, tapi juga pada kita yang menyaksikan.
Kita sering mengira bahwa ketidakberdayaan adalah alasan untuk diam. Padahal, diam yang terus-menerus justru memperkuat pola yang salah. Ketika penyimpangan tidak dipertanyakan, ia akan berkembang. Ketika ketidakadilan tidak dilawan, ia akan dianggap sebagai kewajaran. Dalam jangka panjang, yang rusak bukan hanya sistem negara, tapi juga cara berpikir masyarakatnya.
Ada pola yang bisa kita lihat jika mau jujur:
- Aturan dibuat, tapi bisa dinegosiasikan bagi yang punya kuasa.
- Kesalahan jelas terlihat, tapi dibungkus narasi untuk mengaburkannya.
- Kritik dianggap ancaman, bukan bagian dari perbaikan.
Semua ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia dibangun dari pembiaran.
Kesadaran logis seharusnya membawa kita pada pertanyaan sederhana:
Jika sesuatu jelas merugikan banyak orang, mengapa tetap dibiarkan?
Jika suatu sistem tidak adil, mengapa dipertahankan?
Di titik ini, kita perlu jujur bahwa menjadi penonton bukan posisi yang netral. Menonton tanpa berpikir, tanpa mempertanyakan, tanpa bersikap—adalah bentuk keterlibatan pasif. Dan dalam banyak kasus, kerusakan justru bergantung pada sikap pasif itu.
Namun, membangun kesadaran tidak selalu berarti melakukan hal besar. Ia dimulai dari hal yang paling mendasar: berpikir jernih.
Berpikir jernih berarti:
- Tidak langsung percaya pada narasi yang disajikan tanpa diuji.
- Mampu membedakan antara fakta dan opini.
- Berani mempertanyakan sesuatu yang tidak masuk akal, meskipun itu datang dari otoritas.
Kesadaran bukan tentang menjadi paling vokal, tapi tentang tidak kehilangan akal sehat.
Negara tidak runtuh hanya karena satu kesalahan besar. Ia runtuh ketika terlalu banyak orang memilih untuk tidak peduli terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang terus menumpuk.
Pertanyaannya bukan lagi: siapa yang merusak?
Tapi: berapa lama lagi kita memilih untuk hanya menonton?

