Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

PEREMPUAN BERILMU TIDAK HARUS KEHILANGAN KERENDAHAN HATI

Dunia Magister by Dunia Magister
October 12, 2026
Reading Time: 13 mins read
PEREMPUAN SEDERHANA, MIMPI TINGGI: KETIKA ILMU MENJADI MAHKOTA KEANGGUNAN
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Tingginya Pendidikan Harus Berjalan Seiring dengan Keluhuran Karakter

Oleh: Nurul Khofifah Lestari

“Semakin tinggi ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin dalam pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Sebab, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya meninggikan cara berpikir, tetapi juga memuliakan cara kita memperlakukan orang lain.”

Di tengah masyarakat yang semakin menjadikan pendidikan sebagai simbol keberhasilan, gelar akademik sering kali dipandang sebagai ukuran kecerdasan, kehormatan, bahkan kedudukan sosial seseorang. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula penghargaan yang diharapkan dari lingkungan sekitarnya.

Tidak ada yang salah dengan kebanggaan atas pencapaian pendidikan. Menyelesaikan pendidikan tinggi membutuhkan perjuangan, pengorbanan, ketekunan, dan kesempatan yang tidak selalu dimiliki setiap orang.

Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah semakin tinggi pendidikan seseorang selalu membuatnya semakin bijaksana dalam memperlakukan orang lain?

Jawabannya tentu tidak selalu.

Kita mungkin pernah menjumpai seseorang yang memiliki gelar akademik tinggi, tetapi sulit menerima kritik. Ada yang menguasai banyak teori, tetapi kurang mampu menghargai pendapat orang lain. Ada pula yang menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk menunjukkan keunggulan pribadi, bukan sebagai sarana memberikan manfaat.

Sebaliknya, kita juga sering bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki pendidikan formal tinggi, tetapi menunjukkan kebijaksanaan, kejujuran, empati, dan penghormatan luar biasa terhadap sesama.

Kenyataan tersebut mengajarkan bahwa pendidikan dan karakter merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu berkembang secara otomatis.

Bagi saya, perempuan berilmu tidak harus kehilangan kerendahan hati. Justru, semakin luas pengetahuan yang dimiliki, semakin besar tanggung jawabnya untuk menunjukkan bahwa ilmu dapat berjalan bersama karakter yang baik.

Pendidikan Tinggi Bukan Alasan untuk Merasa Lebih Tinggi

Dalam kehidupan sosial, pendidikan sering melahirkan perbedaan status yang tidak selalu disadari.

Seseorang yang memiliki gelar sarjana, magister, atau doktor terkadang mendapatkan penghormatan lebih besar dibandingkan mereka yang hanya menyelesaikan pendidikan dasar atau menengah.

Penghormatan terhadap pencapaian akademik tentu wajar. Namun, penghormatan tersebut menjadi persoalan ketika berubah menjadi keyakinan bahwa orang berpendidikan tinggi memiliki martabat lebih tinggi daripada orang lain.

Padahal, gelar akademik merupakan pengakuan atas proses pendidikan dan kompetensi tertentu, bukan ukuran mutlak nilai kemanusiaan.

Seorang perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi tidak otomatis lebih mulia daripada seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah.

Seorang akademisi tidak memiliki martabat kemanusiaan lebih tinggi daripada pekerja pabrik, pedagang kecil, petani, atau pekerja rumah tangga.

Mereka mungkin mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, tetapi tetap memiliki hak yang sama untuk dihormati.

Di sinilah pendidikan seharusnya memainkan peran penting.

Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan seseorang memahami teori, menguasai teknologi, atau menyelesaikan persoalan akademik. Pendidikan juga perlu menumbuhkan kemampuan memahami keberagaman kehidupan manusia.

Orang yang memiliki pendidikan tinggi semestinya menyadari bahwa tidak semua orang memperoleh kesempatan belajar yang sama.

Ada perempuan yang harus menghentikan pendidikannya karena keterbatasan ekonomi. Ada yang terpaksa bekerja sejak usia muda. Ada pula yang tidak dapat melanjutkan kuliah karena tanggung jawab keluarga.

Karena itu, pencapaian pendidikan seharusnya melahirkan rasa syukur dan tanggung jawab sosial, bukan kesombongan.

Ilmu yang tinggi tidak memberikan hak kepada seseorang untuk merendahkan manusia lain. Sebaliknya, ilmu seharusnya membuat seseorang semakin memahami mengapa setiap manusia layak dihormati.

Perempuan Berilmu Tidak Harus Selalu Merasa Paling Benar

Salah satu tantangan terbesar bagi orang berpendidikan adalah kemampuan menerima kenyataan bahwa dirinya tidak mengetahui segala hal.

Semakin seseorang mendalami suatu bidang pengetahuan, seharusnya semakin ia memahami luasnya persoalan yang belum dikuasai.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan terkadang justru digunakan untuk memenangkan perdebatan.

Ada orang yang lebih sibuk membuktikan dirinya benar daripada berusaha memahami pandangan orang lain.

Sikap seperti ini dapat menghambat perkembangan intelektual.

Sebab, belajar membutuhkan kesediaan untuk mengakui keterbatasan pengetahuan.

Dalam kajian psikologi, konsep intellectual humility atau kerendahan hati intelektual menggambarkan kesediaan seseorang untuk menyadari keterbatasan pengetahuannya, mempertimbangkan bukti baru, dan terbuka terhadap kemungkinan bahwa pendapatnya dapat keliru.

Konsep tersebut penting dalam kehidupan akademik maupun sosial.

Perempuan yang memiliki pendidikan tinggi tidak harus selalu mempunyai jawaban atas setiap pertanyaan.

Ia boleh mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui sesuatu.

Ia boleh meminta penjelasan.

Ia juga boleh mengubah pandangannya ketika menemukan fakta atau argumentasi yang lebih kuat.

Sikap tersebut bukan tanda kelemahan intelektual.

Justru, kemampuan mengakui ketidaktahuan merupakan bagian dari kedewasaan berpikir.

Bagi saya, perempuan berilmu tidak perlu menjadikan setiap perbedaan pendapat sebagai pertandingan yang harus dimenangkan.

Pengetahuan seharusnya membantu kita memahami persoalan, bukan sekadar membuktikan keunggulan diri.

Orang yang benar-benar mencintai ilmu tidak akan takut mengatakan, “Saya belum tahu,” karena ia memahami bahwa ketidaktahuan merupakan awal dari proses belajar.

Kerendahan Hati Bukan Berarti Perempuan Harus Diam

Ada persoalan lain yang perlu dibicarakan ketika menghubungkan perempuan dengan kerendahan hati.

Dalam sebagian lingkungan sosial, perempuan yang dianggap rendah hati sering digambarkan sebagai perempuan yang selalu mengalah, tidak banyak berbicara, tidak mempertanyakan keputusan, dan menghindari perbedaan pendapat.

Pandangan tersebut perlu diluruskan.

Kerendahan hati tidak sama dengan kepatuhan tanpa batas.

Perempuan yang rendah hati bukan berarti harus menerima perlakuan tidak adil. Ia juga tidak harus menyembunyikan kemampuan atau mengecilkan pencapaiannya agar orang lain merasa lebih nyaman.

Perempuan berilmu tetap berhak memiliki pendapat, menunjukkan kompetensi, memimpin organisasi, dan mempertahankan prinsip yang diyakininya.

Ia boleh berbicara tegas ketika menghadapi ketidakadilan.

Ia boleh mengkritik keputusan yang keliru.

Ia juga berhak menolak perlakuan yang merendahkan martabatnya.

Yang membedakan kerendahan hati dengan kesombongan bukanlah seberapa keras seseorang berbicara, melainkan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan kekuasaan yang dimilikinya.

Perempuan yang rendah hati dapat menyampaikan kritik secara tegas tanpa harus menghina orang lain.

Ia dapat mempertahankan argumentasi berdasarkan fakta tanpa merasa perlu menyerang martabat pribadi lawan bicaranya.

Ia juga mampu mengakui kontribusi orang lain dalam sebuah keberhasilan.

Dengan demikian, kerendahan hati tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam suara perempuan.

Justru, pendidikan seharusnya membantu perempuan membangun keberanian yang disertai tanggung jawab.

Perempuan boleh lembut dalam tutur kata, tetapi tetap kuat dalam prinsip. Ia boleh rendah hati dalam sikap, tetapi tidak harus merendahkan harga dirinya sendiri.

Pengetahuan Akademik dan Kebijaksanaan Hidup Harus Saling Menghargai

Kehidupan mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya ditemukan dalam ruang kelas dan buku pelajaran.

Ada pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang, pekerjaan sehari-hari, hubungan sosial, dan perjuangan menghadapi kesulitan.

Seorang perempuan yang menempuh pendidikan tinggi mungkin memahami teori ekonomi, tetapi seorang ibu yang mengelola keuangan keluarga selama puluhan tahun juga memiliki pengalaman praktis yang berharga.

Seorang akademisi mungkin menguasai teori pertanian, tetapi seorang petani perempuan memiliki pengetahuan lapangan mengenai tanah, musim, dan kondisi tanaman.

Keduanya memiliki bentuk pengetahuan yang dapat saling melengkapi.

Pendidikan formal memberikan metode ilmiah untuk menguji dan mengembangkan pengetahuan. Sementara itu, pengalaman hidup memberikan pemahaman praktis yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui bacaan.

Karena itu, perempuan berpendidikan tidak seharusnya memandang rendah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman.

Ia perlu mampu mendengarkan, mengamati, dan belajar dari masyarakat.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan pendidikan dialogis yang dikembangkan oleh Paulo Freire, terutama dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970).

Freire mengkritik model pendidikan yang memperlakukan peserta didik hanya sebagai penerima pengetahuan. Ia menekankan pentingnya dialog, kesadaran kritis, dan hubungan pembelajaran yang lebih manusiawi.

Dalam semangat tersebut, pendidikan bukanlah proses seseorang yang merasa paling mengetahui memberikan pengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mengetahui apa pun.

Pendidikan merupakan proses bersama untuk memahami kenyataan dan mengembangkan kemampuan manusia.

Bagi perempuan berilmu, pemikiran ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan tidak boleh menciptakan jarak dengan masyarakat.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula kemampuannya untuk mendengarkan pengalaman hidup orang lain.

Ilmu yang Tidak Disertai Karakter Dapat Kehilangan Maknanya

Kecerdasan merupakan kemampuan yang sangat berharga.

Namun, kecerdasan tanpa integritas dapat digunakan untuk kepentingan yang merugikan orang lain.

Seseorang yang memahami hukum dapat menggunakan pengetahuannya untuk memperjuangkan keadilan, tetapi pengetahuan yang sama juga dapat disalahgunakan untuk mencari celah demi kepentingan pribadi.

Seseorang yang menguasai teknologi dapat menciptakan inovasi bermanfaat, tetapi juga dapat menggunakan kemampuannya untuk melakukan manipulasi.

Artinya, ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menentukan arah moral seseorang.

Diperlukan karakter untuk membimbing bagaimana ilmu digunakan.

Kejujuran, tanggung jawab, empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan nilai penting yang harus berjalan bersama pendidikan.

Dalam pemikiran pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia yang tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga perkembangan budi pekerti.

Pandangan tersebut tetap relevan ketika pendidikan semakin sering diukur melalui nilai akademik, sertifikat, gelar, dan prestasi formal.

Kita perlu mempertanyakan apakah sistem pendidikan telah memberikan perhatian memadai terhadap pembentukan karakter.

Apakah seseorang yang memperoleh nilai tinggi juga belajar menghargai perbedaan?

Apakah seseorang yang berhasil meraih gelar akademik memahami tanggung jawab sosial dari pengetahuannya?

Apakah pendidikan membantu manusia menjadi lebih peduli terhadap mereka yang menghadapi kesulitan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur melalui jumlah lulusan.

Bagi saya, perempuan berilmu seharusnya mampu menjadikan pengetahuan sebagai sarana memperbaiki kehidupan.

Ilmu menunjukkan apa yang mampu kita lakukan. Karakter membantu menentukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Jangan Sampai Pendidikan Membuat Kita Malu terhadap Kesederhanaan

Bagi perempuan yang berasal dari keluarga sederhana, pendidikan tinggi sering menjadi bagian dari perjuangan memperbaiki kehidupan.

Ada kebanggaan ketika berhasil menyelesaikan pendidikan dan memperoleh kesempatan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Kebanggaan tersebut patut dihargai.

Namun, perubahan keadaan sosial tidak seharusnya membuat seseorang merasa malu terhadap asal-usulnya.

Tidak ada yang salah dengan memiliki orang tua yang bekerja sebagai buruh, petani, pedagang kecil, atau menjalani pekerjaan sederhana lainnya.

Tidak ada alasan untuk merasa rendah karena tumbuh dalam keluarga yang tidak memiliki kekayaan berlimpah.

Pendidikan seharusnya membantu seseorang memahami bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan maupun keadaan ekonominya.

Perempuan yang berhasil memperoleh pendidikan tinggi tetap dapat mempertahankan gaya hidup sederhana.

Ia tidak harus mengubah penampilannya menjadi mewah hanya agar dianggap berhasil.

Ia juga tidak perlu menjauh dari lingkungan asalnya untuk membuktikan bahwa status sosialnya telah meningkat.

Tentu, setiap orang berhak memperbaiki kondisi ekonomi dan menikmati hasil perjuangannya.

Namun, keberhasilan tersebut seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan menghargai kehidupan sederhana.

Saya ingin pendidikan membawa saya menuju kehidupan yang lebih baik, tetapi tidak ingin keberhasilan membuat saya lupa bagaimana perjuangan itu dimulai.

Saya ingin tetap menghargai orang-orang yang telah mendukung perjalanan pendidikan saya, termasuk mereka yang mungkin tidak memiliki gelar akademik.

Karena pendidikan yang tinggi seharusnya memperluas pandangan seseorang terhadap kehidupan, bukan mempersempit penghormatannya hanya kepada mereka yang memiliki kedudukan sosial tertentu.

Perempuan Berpendidikan Memiliki Tanggung Jawab untuk Membuka Jalan bagi Perempuan Lain

Salah satu ukuran penting dari kebermanfaatan ilmu adalah sejauh mana pengetahuan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi orang lain.

Perempuan yang memperoleh kesempatan pendidikan tinggi memiliki peluang untuk membantu perempuan lain mengembangkan kemampuan.

Bentuknya tidak harus selalu besar.

Seorang perempuan dapat membagikan informasi beasiswa, membantu anak-anak belajar, memberikan pendampingan keterampilan, atau menjadi tempat bertanya bagi perempuan yang sedang menghadapi persoalan.

Ia juga dapat menggunakan pengetahuannya untuk mendorong kebijakan yang lebih adil.

Dalam konteks kesetaraan gender, UN Women menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui kesempatan pendidikan, partisipasi, dan penghapusan hambatan diskriminatif.

Namun, pemberdayaan tidak seharusnya dipahami sebagai hubungan antara perempuan yang merasa lebih mampu dengan perempuan yang dianggap tidak berdaya.

Pemberdayaan perlu dibangun melalui penghormatan, kerja sama, dan pengakuan terhadap kemampuan setiap individu.

Perempuan berpendidikan tidak harus menjadi penyelamat bagi perempuan lain.

Ia dapat menjadi mitra yang membantu membuka kesempatan.

Dalam kehidupan masyarakat, solidaritas semacam ini sangat dibutuhkan.

Ketika perempuan saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan dukungan, pendidikan dapat menjadi kekuatan sosial yang lebih luas.

Saya percaya keberhasilan pribadi akan mempunyai makna lebih dalam ketika dapat membantu orang lain memperoleh kesempatan yang lebih baik.

Saya tidak ingin menjadi perempuan yang hanya bangga karena berhasil mencapai pendidikan tinggi.

Saya juga ingin memiliki kepedulian terhadap perempuan yang masih berjuang mendapatkan kesempatan belajar.

Pendidikan tidak seharusnya hanya mengangkat seseorang menuju kedudukan lebih tinggi, tetapi juga memberinya kemampuan untuk membantu membuka jalan bagi orang lain.

Penutup: Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Dalam Kerendahan Hati

Pada akhirnya, pendidikan tinggi dan kerendahan hati bukanlah dua hal yang bertentangan.

Keduanya justru dapat saling memperkuat.

Pendidikan membantu perempuan mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas pengetahuan, dan memahami berbagai persoalan kehidupan.

Sementara itu, kerendahan hati membantu seseorang menggunakan pengetahuan tersebut dengan kesadaran bahwa dirinya tetap memiliki keterbatasan.

Perempuan berilmu tidak harus menjadi pribadi yang selalu mengalah.

Ia tetap berhak memiliki cita-cita besar, menyampaikan kritik, mempertahankan prinsip, dan menunjukkan kemampuan.

Namun, semua itu dapat dilakukan tanpa merendahkan orang lain.

Saya percaya bahwa keberhasilan pendidikan tidak seharusnya membuat perempuan kehilangan kesederhanaannya.

Saya ingin terus belajar tanpa merasa paling mengetahui.

Saya ingin memiliki gelar akademik tanpa menjadikan gelar tersebut sebagai ukuran martabat orang lain.

Saya ingin berani menyampaikan pendapat tanpa kehilangan kemampuan mendengarkan.

Saya ingin memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tetap memahami bahwa setiap manusia mempunyai pengalaman hidup yang layak dihargai.

Bagi saya, pendidikan bukanlah tangga untuk berdiri lebih tinggi daripada orang lain.

Pendidikan adalah jalan untuk melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih luas.

Dan semakin luas pandangan kita terhadap kehidupan, seharusnya semakin besar pula kemampuan kita memahami bahwa setiap manusia memiliki nilai dan martabat yang sama.

Karena perempuan yang benar-benar berilmu tidak membutuhkan kesombongan untuk menunjukkan kecerdasannya. Pengetahuan akan terlihat melalui pemikirannya, sedangkan keluhuran karakter akan tercermin melalui sikapnya.

Saya ingin menjadi perempuan yang tetap sederhana dalam penampilan, luas dalam pemikiran, kuat dalam prinsip, dan rendah hati dalam kehidupan.

Bukan karena saya tidak memiliki cita-cita tinggi, tetapi karena saya memahami bahwa pencapaian setinggi apa pun tidak pernah memberikan alasan untuk merendahkan manusia lain.

“Saya ingin pendidikan membawa pemikiran saya setinggi mungkin, tetapi tetap menjaga hati saya agar tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab, perempuan berilmu tidak harus kehilangan kerendahan hati. Justru dalam kerendahan hatinya, ilmu menemukan kemuliaannya.”

Sederhana dalam gaya, tinggi dalam ilmu, mulia dalam karakter.

— Nurul Khofifah Lestari

Referensi dan landasan pemikiran

1. Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran tentang pendidikan dan budi pekerti, sebagaimana dihimpun dalam Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Menjadi landasan konseptual hubungan pendidikan dengan pembentukan karakter.

2. Paulo Freire (1970). Pedagogy of the Oppressed. Membahas pendidikan dialogis, kesadaran kritis, dan penghormatan terhadap manusia dalam proses pembelajaran.

3. Mark R. Leary dkk. (2017). Cognitive and Interpersonal Features of Intellectual Humility. Personality and Social Psychology Bulletin. Membahas kerendahan hati intelektual, keterbukaan terhadap pandangan berbeda, dan kesadaran atas keterbatasan pengetahuan.

4. UNESCO. Education for Sustainable Development: A Roadmap (2020). Menjelaskan pentingnya pendidikan yang membangun pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan bertindak secara bertanggung jawab.

5. UN Women. Publikasi mengenai pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Situs resmi UN Women.

Tags: BuruhDunia MagisterMahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaPerempuanSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Ketika Ego Menjadi Jalan Menuju Kerendahan Hati

Ketika Ego Menjadi Jalan Menuju Kerendahan Hati

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM NUKLIR NURUL KHOFIFAH LESTARi OLAHRAGA ONIC PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister