Semakin besar ego Anda, semakin besar pula kesempatan Anda untuk belajar hidup dengan rendah hati dan saling menjaga.
Kalimat ini terdengar seperti sebuah pertentangan.
Bukankah ego adalah sumber kesombongan? Bukankah semakin tinggi ego seseorang, semakin sulit ia menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan menghargai orang lain?
Benar.
Tetapi justru di situlah persoalannya.
Ego bukan sesuatu yang selalu harus dimusnahkan. Ego adalah bagian dari manusia. Ia membuat kita ingin dihargai, ingin diakui, ingin menang, ingin dianggap benar, bahkan ingin menjadi lebih tinggi daripada orang lain.
Masalahnya bukan pada keberadaan ego.
Masalahnya adalah ketika kita tidak lagi mampu membedakan antara harga diri dan kesombongan.
Kita sering menyebut diri sedang mempertahankan prinsip, padahal sebenarnya sedang mempertahankan gengsi.
Kita mengatakan sedang memperjuangkan kebenaran, padahal yang kita perjuangkan adalah keinginan agar orang lain mengakui bahwa kita benar.
Kita merasa sedang menjaga martabat, padahal yang sedang kita lindungi hanyalah ego yang terluka.
Dan yang lebih berbahaya, kita sering tidak menyadarinya.
Cobalah perhatikan kehidupan sehari-hari.
Berapa banyak hubungan yang rusak bukan karena persoalannya terlalu besar, tetapi karena tidak ada satu pun yang mau berkata:
“Saya mungkin salah.”
Berapa banyak persahabatan berakhir hanya karena seseorang merasa terlalu tinggi untuk meminta maaf?
Berapa banyak keluarga menjadi dingin karena masing-masing menunggu pihak lain lebih dahulu menurunkan ego?
Berapa banyak orang kehilangan kesempatan untuk belajar karena merasa dirinya sudah paling tahu?
Dan berapa banyak manusia menjalani hidup dengan membawa luka yang sebenarnya bisa selesai hanya dengan satu kalimat sederhana:
“Maaf.”
Tetapi ego berbisik:
“Mengapa harus saya?”
Di situlah manusia sering kalah.
Bukan oleh orang lain.
Melainkan oleh dirinya sendiri.
Ironisnya, semakin tinggi seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk merendahkan dirinya.
Bukan merendahkan harga dirinya.
Tetapi merendahkan kesombongannya.
Sebab manusia yang benar-benar memahami kehidupan akan menyadari bahwa tidak ada satu pun pencapaian yang sepenuhnya berdiri sendiri.
Kita sampai pada titik tertentu karena ada orang yang pernah membantu.
Ada yang mengajarkan.
Ada yang membuka jalan.
Ada yang memberi kesempatan.
Ada yang bertahan bersama kita ketika orang lain pergi.
Bahkan kegagalan pun sering menjadi guru yang tidak kita bayar.
Maka apa yang sebenarnya pantas kita sombongkan?
Jabatan bisa berakhir.
Uang bisa habis.
Popularitas bisa hilang.
Kekuatan tubuh akan menurun.
Orang yang hari ini kita anggap tidak penting bisa menjadi orang yang paling kita butuhkan di kemudian hari.
Dan orang yang hari ini kita injak harga dirinya, mungkin suatu hari menjadi satu-satunya orang yang masih bersedia mengulurkan tangan kepada kita.
Kehidupan memiliki cara yang aneh untuk mengajarkan manusia tentang kerendahan hati.
Karena itu, memiliki ego bukan berarti harus menjadi manusia yang angkuh.
Ego seharusnya menjadi sesuatu yang kita sadari, bukan sesuatu yang kita sembah.
Kita boleh memiliki ambisi.
Boleh ingin berhasil.
Boleh ingin dihargai.
Boleh memperjuangkan hak.
Boleh berdiri tegak ketika diperlakukan tidak adil.
Tetapi jangan sampai keinginan untuk menjadi besar membuat kita merasa orang lain harus menjadi kecil.
Sebab ada perbedaan besar antara menjadi kuat dan membuat orang lain merasa lemah.
Ada perbedaan antara percaya diri dan merendahkan orang lain.
Ada perbedaan antara memiliki prinsip dan tidak mampu menerima kebenaran dari orang lain.
Dan ada perbedaan antara mempertahankan martabat dengan mempertahankan ego.
Mungkin kedewasaan bukanlah ketika kita berhasil menghilangkan ego.
Mungkin kedewasaan justru dimulai ketika kita mampu berkata kepada ego kita sendiri:
“Saya tahu kamu ingin menang. Tetapi tidak semua hal harus dimenangkan.”
“Saya tahu kamu ingin dianggap benar. Tetapi mengakui kesalahan tidak membuat saya menjadi rendah.”
“Saya tahu kamu ingin dihormati. Tetapi menghormati orang lain tidak mengurangi harga diri saya.”
“Saya tahu kamu ingin membalas. Tetapi menjaga hubungan mungkin jauh lebih berharga daripada memenangkan pertengkaran.”
Di titik itulah ego mulai berubah fungsi.
Dari sesuatu yang ingin menguasai manusia, menjadi sesuatu yang membantu manusia mengenali dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri.
Karena setinggi apa pun seseorang berdiri, ia tetap membutuhkan orang lain.
Kita membutuhkan keluarga.
Membutuhkan teman.
Membutuhkan rekan kerja.
Membutuhkan orang yang berbeda pandangan.
Bahkan terkadang kita membutuhkan orang yang tidak kita sukai untuk menunjukkan sisi diri kita yang tidak pernah kita sadari.
Maka mungkin ukuran keberhasilan manusia bukan hanya seberapa tinggi ia berhasil naik, tetapi juga seberapa banyak orang yang tetap ia hormati ketika ia sudah berada di atas.
Sebab semakin tinggi posisi seseorang, semakin luas pula dampak dari sikapnya.
Dan semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakannya.
Kerendahan hati bukan berarti merasa diri tidak berharga.
Kerendahan hati adalah kemampuan untuk mengetahui bahwa diri kita berharga tanpa harus membuat orang lain merasa tidak berharga.
Itulah barangkali bentuk ego yang paling dewasa:
mengetahui siapa diri kita, tetapi tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Dan jika suatu hari kita benar-benar memahami itu, mungkin kita akan berhenti bertanya:
“Bagaimana caranya agar saya menang?”
Lalu mulai bertanya:
“Bagaimana caranya agar kita semua tetap bisa hidup, tumbuh, dan saling menjaga?”
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya akan dikenang karena apa yang ia miliki.
Tetapi karena bagaimana ia memperlakukan manusia lain ketika ia memiliki kesempatan untuk berbuat apa saja.

