Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Berita Buruh

BERSATU KITA KUAT, BERJUANG KITA MENANG

Dunia Magister by Dunia Magister
October 5, 2026
Reading Time: 10 mins read
BERSATU KITA KUAT, BERJUANG KITA MENANG
Share on FacebookShare on Twitter

Menjelang RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Saatnya Persatuan Buruh Bergerak dari Akar Rumput

Selama puluhan tahun kita akrab dengan sebuah slogan: “Buruh bersatu tak bisa dikalahkan!”

Slogan itu benar. Tetapi hari ini kita harus berani bertanya lebih jauh: benarkah buruh sudah bersatu?

Sebab kalau kenyataannya buruh belum benar-benar bersatu, maka slogan tersebut justru menjadi kalimat defensif. Kita seolah menunggu kekuatan datang setelah persatuan terbentuk, sementara di lapangan kekuatan buruh terus tergerus.

Karena itu, mungkin sudah waktunya slogan tersebut kita ubah menjadi sesuatu yang lebih aktif:

“BURUH BERSATU DAPAT MENGALAHKAN.”

Bukan lagi sekadar kalimat untuk bertahan ketika ditekan, tetapi sebuah keberanian untuk bergerak, melawan ketidakadilan, merebut ruang perjuangan dan memenangkan kepentingan pekerja.

Kita Terlalu Lama Sibuk Menunjukkan Bahwa Kita Masih Ada

Mari kita jujur.

Terlalu banyak waktu, energi dan sumber daya gerakan buruh habis dalam forum diskusi, seminar, rapat, pendidikan, deklarasi dan aksi.

Semua itu penting.

Tetapi pertanyaan besarnya adalah: apa yang terjadi setelah forum selesai?

Apakah anggota bertambah?

Apakah posisi tawar buruh semakin kuat?

Apakah praktik outsourcing semakin berkurang?

Apakah pekerja magang dan pekerja harian mendapatkan perlindungan yang lebih baik?

Apakah pekerja kontrak semakin terlindungi?

Apakah PHK semakin sulit dilakukan secara sewenang-wenang?

Atau jangan-jangan sebagian aktivitas organisasi hanya menjadi cara untuk menunjukkan bahwa serikat pekerja masih eksis?

Sementara di akar rumput, kenyataannya justru semakin banyak pekerja yang kehilangan hubungan dengan gerakan serikat.

Anggota terdegradasi. Basis melemah. Serikat kehilangan daya tarik.

Di saat yang sama, praktik outsourcing, pemagangan, pekerja harian dan berbagai bentuk hubungan kerja fleksibel semakin berkembang.

Di sinilah kita harus berani melakukan evaluasi.

Buruh tidak cukup hanya memiliki organisasi. Buruh membutuhkan organisasi yang mampu memenangkan kepentingannya.

Masalah Kita Bukan Hanya Pengusaha dan Pemerintah

Selama ini kita sering mengatakan bahwa musuh buruh adalah pengusaha yang eksploitatif dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak.

Itu memang bagian dari persoalan.

Tetapi ada persoalan lain yang tidak kalah penting: fragmentasi gerakan buruh itu sendiri.

Semakin banyak organisasi, federasi dan konfederasi, seharusnya semakin banyak pula kekuatan yang dapat digunakan untuk memperjuangkan kepentingan pekerja.

Namun apabila perbedaan organisasi justru membuat buruh saling berjarak, maka jumlah yang banyak tidak otomatis menghasilkan kekuatan.

Sebaliknya:

semakin terpecah, semakin mudah dikalahkan.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh memberikan ruang kebebasan bagi pekerja untuk membentuk dan bergabung dalam serikat pekerja.

Kebebasan berserikat adalah hak yang harus dihormati.

Tetapi kebebasan untuk membentuk organisasi tidak boleh berubah menjadi alasan untuk selamanya membiarkan gerakan buruh terpecah.

Boleh berbeda organisasi, tetapi kepentingan buruh harus tetap dapat disatukan.

Karena pengusaha tidak perlu memiliki seratus serikat untuk memperjuangkan kepentingannya.

Pemerintah juga tidak harus memiliki banyak kelompok untuk membuat kebijakan.

Lalu mengapa buruh justru sering bertarung dengan dirinya sendiri?

Persatuan Jangan Sampai Hanya Menjadi Alat Politik

Ada persoalan lain yang juga harus kita waspadai.

Persatuan buruh memang penting.

Tetapi persatuan tidak boleh hanya menjadi kendaraan bagi kepentingan segelintir orang.

Jangan sampai buruh dikumpulkan ketika diperlukan untuk mendukung kepentingan politik tertentu, tetapi setelah kepentingan itu tercapai, buruh kembali ditinggalkan.

Buruh bukan massa yang boleh dipanggil ketika dibutuhkan lalu dilupakan ketika kepentingan selesai.

Gerakan buruh harus memiliki agenda sendiri.

Politik boleh menjadi instrumen.

Tetapi kepentingan pekerja harus menjadi tujuan.

Jangan sampai perjuangan buruh kembali menjadi komoditas bagi para oportunis.

Yang Tidak Mau Bersatu Jangan Hanya Buruh di Akar Rumput

Ironisnya, ketika kita berbicara tentang persatuan, sering kali yang diminta untuk bersatu justru anggota di tingkat akar rumput.

Padahal persoalannya bisa jadi bukan pada mereka.

Di pabrik, di lapangan, di kawasan industri, pekerja sebenarnya memiliki persoalan yang sama.

Mereka sama-sama ingin:

  • mendapatkan upah yang layak;
  • mendapatkan kepastian kerja;
  • terlindungi dari PHK sewenang-wenang;
  • terbebas dari praktik outsourcing yang eksploitatif;
  • mendapatkan jaminan sosial;
  • memperoleh lingkungan kerja yang aman dan bermartabat;
  • serta memiliki masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

Mereka tidak terlalu peduli apakah kartu anggotanya berwarna apa.

Mereka ingin tahu satu hal:

siapa yang benar-benar memperjuangkan mereka?

Karena itu, jangan sampai persoalan persatuan justru berhenti di meja para elite organisasi.

Sementara di bawah, pekerja sudah semakin sadar bahwa persoalan mereka sebenarnya sama.

Jangan Sampai Kursi Organisasi Lebih Panjang Umurnya daripada Anggotanya

Ada pertanyaan yang mungkin terasa pahit, tetapi harus kita jawab.

Apa arti sebuah federasi jika anggotanya terus berkurang?

Apa arti sebuah jabatan organisasi jika basis perjuangannya semakin kosong?

Apa arti sebuah struktur yang masih berdiri jika di bawahnya tidak lagi ada massa yang kuat?

Kita harus berani mengatakan:

Organisasi bukan tujuan. Organisasi adalah alat perjuangan.

Jangan sampai kita lebih sibuk mempertahankan struktur daripada mempertahankan anggota.

Jangan sampai kita lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan basis.

Dan jangan sampai kita merasa menang karena masih memiliki kursi di organisasi, sementara pekerja di akar rumput justru semakin kehilangan harapan terhadap serikat.

Kalau anggota sudah habis, apa yang sebenarnya sedang kita pertahankan?

Pertanyaan ini bukan untuk menyerang individu.

Ini adalah pertanyaan untuk seluruh gerakan serikat pekerja.

RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Harus Menjadi Momentum Persatuan

Kini kita berada di momentum penting: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan.

Inilah saatnya gerakan buruh menunjukkan bahwa persatuan bukan sekadar slogan.

RUU ini seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan seluruh kekuatan pekerja.

Bukan hanya satu konfederasi.

Bukan hanya satu federasi.

Bukan hanya kelompok tertentu.

Tetapi seluruh pekerja Indonesia yang memiliki kepentingan terhadap masa depan hubungan industrial yang lebih adil.

Kita boleh berbeda bendera.

Kita boleh berbeda sejarah.

Kita boleh berbeda strategi.

Bahkan kita boleh berbeda pilihan politik.

Tetapi ketika menyangkut perlindungan pekerja, seharusnya kita mempunyai satu kepentingan.

Jangan biarkan perbedaan organisasi mengalahkan persamaan nasib.

Mari Rintis Persatuan dari Akar Rumput

Mungkin persatuan nasional terlalu besar untuk dimulai dari atas.

Mungkin justru persatuan harus dimulai dari bawah.

Dari pekerja di pabrik.

Dari PUK.

Dari komunitas pekerja.

Dari kawasan industri.

Dari mereka yang setiap hari berhadapan langsung dengan outsourcing, kontrak, magang, PHK, upah rendah dan ketidakpastian kerja.

Mari kita bangun persatuan berdasarkan kepentingan, bukan sekadar berdasarkan struktur.

Jika satu perusahaan melakukan PHK sewenang-wenang, seluruh serikat harus bersuara.

Jika pekerja outsourcing diperlakukan tidak adil, seluruh serikat harus bergerak.

Jika hak pekerja dirampas, kita tidak boleh bertanya terlebih dahulu:

“Dia anggota serikat mana?”

Pertanyaan pertama seharusnya:

“Dia pekerja. Apa yang bisa kita lakukan?”

Inilah persatuan yang sesungguhnya.

Dari Defensif Menjadi Ofensif

Kita tidak boleh terus-menerus berada dalam posisi menunggu.

Menunggu PHK baru bergerak.

Menunggu upah ditekan baru bersuara.

Menunggu aturan diterbitkan baru melakukan protes.

Menunggu perusahaan melakukan pelanggaran baru melakukan advokasi.

Gerakan buruh harus mampu membaca perubahan, mengantisipasi ancaman dan menciptakan terobosan.

Karena itu, slogan kita harus berubah.

Bukan lagi hanya:

“Buruh bersatu tak bisa dikalahkan.”

Tetapi:

“BURUH BERSATU DAPAT MENGALAHKAN.”

Mengalahkan ketidakadilan.

Mengalahkan kesewenang-wenangan.

Mengalahkan eksploitasi.

Mengalahkan politik pecah belah.

Dan yang paling penting:

mengalahkan rasa tidak berdaya yang selama ini tumbuh di dalam diri pekerja.

Bersatu Kita Kuat, Berjuang Kita Menang

Menjelang lahirnya RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, inilah saatnya kita melakukan introspeksi.

Bukan untuk mencari siapa yang salah.

Tetapi untuk menemukan jalan keluar.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak ego organisasi.

Kita membutuhkan lebih banyak keberanian untuk duduk bersama.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak perebutan ruang.

Kita membutuhkan lebih banyak ruang untuk memperjuangkan pekerja.

Kita tidak membutuhkan persatuan yang hanya muncul di atas panggung.

Kita membutuhkan persatuan yang terasa manfaatnya di akar rumput.

Dan kita tidak membutuhkan organisasi yang hanya mampu bertahan.

Kita membutuhkan gerakan yang mampu memenangkan perjuangan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak seminar yang pernah kita selenggarakan.

Sejarah akan mencatat:

apakah kita mampu mengubah kehidupan pekerja menjadi lebih baik.

Maka mari kita mulai dari tempat paling sederhana:

dari akar rumput, dari kepentingan yang sama, dari keberanian untuk mengesampingkan ego organisasi.

Boleh berbeda bendera.

Tetapi jangan berbeda dalam memperjuangkan keadilan.

Bersatu kita kuat.

Berjuang kita menang.

Dan untuk pertama kalinya, biarlah slogan itu bukan hanya menjadi kata-kata:

BURUH BERSATU DAPAT MENGALAHKAN.

Tags: BuruhDunia MagisterMahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
DPR RI dan Pemerintah, Jangan Mengilusi Buruh dengan Istilah “Pelindungan Ketenagakerjaan”

DPR RI dan Pemerintah, Jangan Mengilusi Buruh dengan Istilah “Pelindungan Ketenagakerjaan”

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM NUKLIR NURUL KHOFIFAH LESTARi OLAHRAGA ONIC PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister