Ada sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan: apa yang terjadi ketika keuntungan menjadi tujuan utama dalam kehidupan ekonomi?
Dalam sistem yang menempatkan keuntungan sebagai salah satu dorongan utama produksi, sebuah persoalan tidak selalu dipandang semata-mata sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Dalam kondisi tertentu, persoalan juga dapat dilihat sebagai pasar yang potensial.
Bayangkan sebuah pohon rindang yang selama ini melindungi manusia dari terik matahari. Jika pohon itu ditebang, panas tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dihindari secara alami. Ia berubah menjadi kebutuhan baru: payung, kanopi, pendingin ruangan, bahkan berbagai produk lain untuk menggantikan fungsi yang sebelumnya diberikan secara cuma-cuma oleh alam.
Di sinilah kritik terhadap kapitalisme menjadi menarik untuk direnungkan.
“Jika dibiarkan merajalela, mesin ini (KAPITALISME) akan rela menebang satu-satunya pohon rindang yang melindungi kita dari terik matahari, hanya agar ia bisa menjual payung dan kayu bakarnya kepada kita yang mulai kepanasan.”
Kalimat tersebut bukan sekadar persoalan tentang pohon atau payung. Ia merupakan metafora tentang bagaimana sesuatu yang semula menjadi milik bersama dapat berubah menjadi komoditas setelah mengalami kerusakan atau kelangkaan.
Hutan ditebang, kemudian udara bersih menjadi mahal.
Lingkungan rusak, kemudian teknologi untuk mengurangi dampaknya menjadi industri.
Waktu manusia semakin sempit, kemudian berbagai layanan dijual untuk membeli kembali waktu yang hilang.
Kebutuhan dasar meningkat, kemudian semakin banyak produk diciptakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Masalahnya bukan pada keberadaan payung.
Payung tetap diperlukan.
Masalah yang lebih besar adalah ketika kita tidak lagi bertanya: mengapa kita harus terus membeli payung?
Apakah karena hujan memang turun secara alami? Atau karena kita telah membangun kehidupan yang membuat kita kehilangan tempat berteduh?
Di sinilah kita perlu membedakan antara memenuhi kebutuhan dan mengkomersialisasikan masalah.
Perusahaan tentu membutuhkan keuntungan agar dapat bertahan. Perdagangan, inovasi, investasi, dan produksi juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Namun ketika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, ada risiko bahwa sesuatu yang seharusnya dicegah justru lebih menguntungkan ketika dibiarkan terjadi.
Sebab dalam logika pasar, persoalan yang terus berlangsung dapat menciptakan permintaan yang terus berulang.
Maka pertanyaan kritisnya bukan hanya:
“Siapa yang menjual payung?”
Tetapi:
“Mengapa kita sampai membutuhkan payung sebanyak itu?”
Dan pertanyaan yang lebih dalam lagi:
“Siapa yang mendapatkan keuntungan ketika kita kehilangan pohon rindang?”
Di titik inilah manusia perlu berhenti menjadi sekadar konsumen dari akibat, lalu mulai menjadi warga yang mempertanyakan sebab.
Sebab jika setiap kerusakan hanya dijawab dengan produk baru, kita mungkin akan terus membeli solusi tanpa pernah menyentuh akar persoalan.
Kita membeli air karena sungai tercemar.
Membeli udara karena lingkungan semakin buruk.
Membeli perlindungan karena ruang hidup semakin tidak aman.
Membeli kembali sesuatu yang sebelumnya tersedia sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar kapitalisme versus antikapitalisme.
Persoalan yang jauh lebih penting adalah:
Apakah ekonomi kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan manusia, atau manusia perlahan-lahan dipaksa menyesuaikan hidupnya dengan kebutuhan ekonomi?
Karena ketika manusia hanya dilihat sebagai konsumen, setiap masalah dapat berubah menjadi pasar.
Tetapi ketika manusia dilihat sebagai manusia, pertanyaan pertama bukan lagi:
“Apa yang bisa kita jual dari masalah ini?”
Melainkan:
“Bagaimana kita mencegah masalah ini agar tidak terus terjadi?”
Sebab masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang memiliki paling banyak produk untuk mengatasi kerusakan.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang tidak membiarkan kerusakan menjadi sumber keuntungan bagi segelintir pihak.

