Di tengah berbagai krisis yang melanda dunia modern—mulai dari ketimpangan ekonomi, eksploitasi tenaga kerja, kerusakan lingkungan, hingga maraknya praktik riba dan penipuan keuangan—muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa banyak umat Islam justru hidup dan bergantung pada sistem yang lahir dari nilai-nilai di luar ajaran Islam?
Kapitalisme, komunisme, sistem keuangan ribawi, hingga berbagai skema spekulatif dan penipuan ekonomi bukanlah produk pemikiran Islam. Sistem-sistem tersebut lahir dari sejarah, ideologi, dan pandangan hidup yang berbeda dengan prinsip-prinsip syariah. Namun ironisnya, sebagian besar masyarakat Muslim saat ini justru menjalani kehidupan sehari-hari di bawah pengaruh sistem-sistem tersebut.
Kapitalisme misalnya, menjadikan akumulasi keuntungan sebagai ukuran utama keberhasilan. Dalam praktiknya, sistem ini sering melahirkan kesenjangan sosial, eksploitasi sumber daya alam, dan dominasi pemilik modal terhadap pekerja. Di sisi lain, komunisme yang pernah menjanjikan kesetaraan juga meninggalkan catatan panjang tentang sentralisasi kekuasaan, pembungkaman kebebasan, dan kegagalan ekonomi di berbagai negara.
Begitu pula sistem keuangan berbasis bunga yang dalam Islam dikategorikan sebagai riba. Utang yang terus bertambah, ketergantungan ekonomi, serta dominasi lembaga keuangan terhadap kehidupan masyarakat menjadi fenomena yang banyak dikritik, bahkan oleh para ekonom non-Muslim sendiri.
Yang menjadi persoalan bukan sekadar siapa pencipta sistem tersebut, melainkan mengapa umat Islam sering kali menerima dan menganggapnya sebagai satu-satunya pilihan. Padahal Islam tidak hanya hadir sebagai agama ritual, tetapi juga menawarkan seperangkat nilai dan prinsip dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik yang berorientasi pada keadilan, keseimbangan, serta kemaslahatan bersama.
Al-Qur’an memberikan pesan bahwa keberkahan akan hadir ketika manusia beriman dan menjalankan petunjuk Allah dalam kehidupannya. Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari nilai-nilai tersebut, kehidupan dapat dipenuhi berbagai kesulitan, meskipun secara materi terlihat maju dan sejahtera.
Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa persoalan umat Islam hari ini tidak bisa disederhanakan menjadi perbedaan identitas antara Muslim dan non-Muslim. Banyak masalah muncul bukan semata-mata karena siapa yang menciptakan sistem, tetapi karena adanya keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan lemahnya moralitas manusia. Sejarah juga menunjukkan bahwa masyarakat Muslim pun tidak kebal dari berbagai penyimpangan ketika nilai-nilai keadilan dan amanah ditinggalkan.
Karena itu, tantangan terbesar umat Islam bukan hanya mengkritik sistem yang ada, melainkan membangun alternatif yang lebih adil, lebih manusiawi, dan benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam dalam praktik nyata. Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi keluhan. Sebaliknya, perubahan membutuhkan ilmu, organisasi, kerja kolektif, dan keteladanan.
Pertanyaan yang seharusnya kita renungkan bukanlah “siapa yang menciptakan sistem ini?”, melainkan “apa yang sudah kita lakukan untuk menghadirkan sistem yang lebih baik?”. Sebab peradaban tidak dibangun oleh kemarahan, tetapi oleh gagasan, kerja keras, dan keberanian untuk menawarkan jalan keluar bagi persoalan umat manusia.

