TANGERANG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan melalui perilaku dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Dr. (C) Ihsanul Khulqi, S.Hum., M.Pd. atau yang dikenal sebagai Dai Songket, saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Bakti Sosial dan Tabligh di Perumahan Sangiang Islamic Village, Sabtu, 12 September 2026.
Mengangkat semangat “Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan dalam Amaliah Sosial”, Dai Songket mengajak jamaah menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk mengevaluasi sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah benar-benar diterapkan dalam kehidupan.
Menurutnya, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan berkumpul, bershalawat dan mendengarkan ceramah. Keteladanan Rasulullah harus masuk ke dalam kehidupan umat, mulai dari ibadah, keluarga hingga hubungan sosial dengan sesama.
“Bagaimana kita bisa meneladani Rasulullah?” menjadi salah satu pertanyaan yang berulang kali ia lontarkan kepada jamaah dalam ceramahnya.
Jangan Hanya Mengaku Cinta Rasul
Dai Songket mengajak jamaah untuk melihat kembali praktik keberagamaan sehari-hari. Ia bahkan menguji jamaah, terutama anak-anak, dengan meminta mereka menghafalkan doa dan zikir yang diajarkan dalam Islam.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan mempelajari dan mengamalkan ajaran yang beliau ajarkan.
Dalam suasana ceramah yang interaktif, ia memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjawab pertanyaan tentang doa dan amalan sehari-hari. Mulai dari zikir Nabi Yunus hingga doa sebelum makan dan doa masuk kamar mandi.
Bagi Dai Songket, cara tersebut merupakan bentuk sederhana untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah sejak usia dini.
Sebab, menurutnya, tidak cukup seseorang mengatakan mencintai Rasulullah jika ajaran yang dibawanya justru tidak dipelajari dan diamalkan.
“Jangan hanya” mengingat dan meneladani Rasulullah dalam momentum tertentu, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Salah satu bagian menarik dari ceramah Dai Songket adalah ketika ia mengajak jamaah mengingat kembali berbagai doa dan sunnah yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan doa ketika makan, doa masuk kamar mandi, hingga berbagai amalan yang dilakukan sejak bangun tidur.
Menurutnya, jika seseorang benar-benar ingin meneladani Rasulullah SAW, maka keteladanan tersebut seharusnya hadir sejak membuka mata hingga kembali beristirahat.
Mulai dari bangun tidur, berdoa, menjalankan ibadah, salat, berzikir, hingga membangun hubungan yang baik dengan keluarga dan masyarakat.
Ia kemudian memberikan pertanyaan reflektif kepada jamaah: apakah umat benar-benar menjalankan ajaran Rasulullah sepanjang kehidupan, atau hanya mengingat dan meneladaninya ketika Maulid Nabi tiba setiap tahun?
Pertanyaan tersebut menjadi titik penting dalam ceramah Dai Songket.
Maulid, menurut pesan yang disampaikannya, seharusnya menjadi momentum perubahan, bukan sekadar perayaan.
Rasulullah dan Akhlak Sosial
Dai Songket juga mengingatkan bahwa salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak.
Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan ibadah personal, tetapi juga bagaimana seorang muslim memperlakukan orang lain.
Kepedulian kepada tetangga, keluarga, anak-anak, serta masyarakat menjadi bagian penting dari keteladanan tersebut.
Pesan ini menjadi semakin relevan karena tabligh tersebut berlangsung bersamaan dengan kegiatan bakti sosial warga Sangiang Islamic Village.
Dalam kegiatan tersebut, warga tidak hanya berkumpul untuk mendengarkan ceramah, tetapi juga melakukan aksi sosial berupa pembagian sembako dan santunan anak yatim serta pengumpulan pakaian layak pakai.
Dengan demikian, tema keteladanan Rasulullah tidak berhenti sebagai materi ceramah. Nilai kepedulian tersebut diterjemahkan langsung melalui kegiatan sosial.
Cinta Rasul Harus Dibuktikan
Menjelang akhir tausiyah, Dai Songket kembali mengajak jamaah melakukan introspeksi.
Ia meminta jamaah membandingkan antara mengingat Rasulullah satu kali dalam setahun dengan menjalankan ajaran dan sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Baginya, ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan semata-mata seberapa sering seseorang mengucapkan cinta kepada Nabi, tetapi sejauh mana ajaran beliau membentuk perilakunya.
Ia mengingatkan bahwa seseorang belum sempurna imannya apabila belum mencintai Rasulullah melebihi dirinya sendiri, orang tua, dan manusia lainnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penutup yang kuat dari tausiyah Dai Songket.
“Cinta kepada Rasulullah jangan hanya dirayakan. Cinta kepada Rasulullah harus dijalankan.”
Sebab, Rasulullah SAW bukan hanya sosok yang dikenang dalam sejarah, tetapi teladan yang ajarannya harus hadir dalam kehidupan umat.
Dari ibadah kepada Allah, akhlak dalam keluarga, kepedulian kepada tetangga, hingga kesediaan membantu mereka yang membutuhkan.
Dan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistis, pesan tersebut menjadi pengingat penting: keteladanan Rasulullah harus hidup dalam tindakan nyata.

