Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Orang Waras Terus Dipaksa Mengalah

Dunia Magister by Dunia Magister
May 11, 2026
Reading Time: 2 mins read
Ketika Orang Waras Terus Dipaksa Mengalah
Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kesalahan fatal yang kerap terjadi dalam kehidupan berbangsa: orang-orang yang masih waras justru terus dipaksa untuk mengalah. Atas nama stabilitas, demi ketertiban, atau dengan dalih kepentingan yang katanya lebih besar. Padahal, ketika kewarasan dipaksa tunduk tanpa batas, yang lahir bukanlah harmoni, melainkan kekacauan yang dilegalkan.

Sejarah menunjukkan, kekuasaan yang tak dikoreksi akan selalu mencari pembenaran. Ketika rakyat memilih diam dan terus mengalah, ruang publik perlahan dikuasai oleh logika yang bengkok. Pada titik itu, bukan lagi akal sehat yang memandu kebijakan, melainkan nafsu menguasai. Ironisnya, semua itu terjadi dalam sistem yang konon demokratis.

Rakyat seharusnya menyadari satu hal mendasar: kekuasaan bukan milik penguasa. Ia hanya dititipkan. Presiden, jenderal, menteri, bahkan mereka yang bergelar doktor sekalipun, hanyalah pengelola mandat rakyat, bukan pemilik negara. Ketika mandat itu berubah menjadi alat untuk menguasai, maka pengkhianatan sedang berlangsung—bukan hanya terhadap konstitusi, tetapi terhadap akal sehat publik.

Lalu mengapa orang-orang yang secara status dianggap cerdas dan terdidik masih bisa “dibodohi” atau justru ikut membodohi? Jawabannya bukan soal kurangnya pengetahuan, melainkan rapuhnya komitmen. Ketika konsistensi, konsekuensi, dan kemandirian dikalahkan oleh hasrat kekuasaan, maka gelar dan jabatan kehilangan maknanya. Jiwa pengabdian runtuh di hadapan fulus dan fasilitas.

Pertanyaan paling jujur yang seharusnya diajukan kepada para pemegang jabatan publik sederhana saja: ingin mengabdi, atau ingin berkuasa? Dua hal itu sering dikemas seolah sama, padahal hakikatnya bertolak belakang. Pengabdian menuntut pembatasan diri, sementara kekuasaan tanpa kontrol selalu ingin meluaskan cengkeramannya.

Masalahnya kian pelik ketika lembaga-lembaga yang semestinya menjadi pengawas justru mandul. Lembaga perwakilan rakyat yang seharusnya menjadi penyeimbang, perlahan kehilangan fungsi ketika ia melebur dengan pemerintah. Ketika wakil rakyat berhenti menjadi penyambung suara publik dan berubah menjadi perpanjangan tangan penguasa, maka konstitusi tinggal teks mati.

UUD 1945 sejatinya telah menyediakan rambu-rambu agar kekuasaan tetap terkendali. Namun rambu tak berarti apa-apa jika sengaja diterobos bersama-sama. Di situlah akal bulus dan fulus bekerja: kompromi di balik layar, kesepakatan sunyi, dan pembungkaman kritik yang dibungkus legalitas.

Pada akhirnya, rakyat tak bisa terus diminta mengalah. Mengalah tanpa sikap hanya akan melahirkan rezim yang merasa selalu benar. Kesadaran politik bukan soal gaduh, melainkan keberanian untuk berkata cukup. Karena ketika orang waras berhenti bersikap, negara perlahan diatur oleh kegilaan yang dilembagakan.

Tags: BuruhDunia MagisterMahasiswa MagisterManajemenManajemen SDMMMPekerjaSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Ketika Republik Dijalankan Tanpa Kesadaran

Ketika Republik Dijalankan Tanpa Kesadaran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO Berserikat BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM OLAHRAGA ONIC Pangeran Sastra PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister