Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Opini

Sukses Itu Katanya Soal Usaha. Tapi Kenapa Hidup Layak Saja Makin Mahal?

Dunia Magister by Dunia Magister
May 3, 2026
Reading Time: 3 mins read
Sukses Itu Katanya Soal Usaha. Tapi Kenapa Hidup Layak Saja Makin Mahal?
Share on FacebookShare on Twitter

Kita sering diajari satu narasi yang terdengar masuk akal: kalau mau sukses, ya kerja keras. Bangun pagi, jangan malas, tambah skill, cari peluang, ambil kerja sampingan kalau perlu. Semua terdengar logis bahkan inspiratif. Tapi ada satu hal yang sering luput: hidup tidak dibayar pakai motivasi.

Masalahnya bukan orang kurang rajin. Masalahnya, biaya hidup berlari jauh lebih cepat daripada kemampuan orang untuk mengejarnya.

Coba lihat kenyataan paling sederhana: dapur. Harga telur tembus Rp32 ribu per kilo, cabai rawit bisa di atas Rp70 ribu. Itu bukan angka di laporan—itu realitas di pasar. Uang belanja yang dulu cukup untuk satu minggu, sekarang baru cukup untuk “pemanasan”. Belum lagi BBM, LPG, dan biaya distribusi yang ikut naik. Ujungnya selalu sama: rakyat yang menyesuaikan, bukan sistem yang membaik.

Di titik ini, kita perlu jujur: kenaikan gaji yang kecil tidak lagi berarti banyak. Ketika upah naik tipis tapi harga kebutuhan melonjak, yang terjadi bukan peningkatan kesejahteraan melainkan penurunan daya beli yang dibungkus rapi dalam angka statistik.

Ironisnya, kondisi ini justru melahirkan budaya baru yang dianggap normal: kerja lebih banyak. Punya satu pekerjaan tidak cukup, maka cari tambahan. Pagi kerja, malam kerja, akhir pekan tetap kerja. Lalu semua itu diberi nama yang terdengar keren: hustle culture.

Padahal, kalau seseorang harus bekerja tanpa henti hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, itu bukan ambisi itu tanda ada yang salah.

Kita seperti sedang memoles kelelahan dengan istilah-istilah motivasional. Kurang tidur disebut dedikasi. Tidak punya waktu istirahat disebut komitmen. Padahal tubuh tetap punya batas. WHO dan berbagai penelitian sudah lama mengingatkan: jam kerja berlebihan bukan jalan menuju sukses, tapi jalan menuju kelelahan kronis, stres, bahkan penyakit serius.

Belum cukup sampai di situ, krisis iklim ikut menambah tekanan. Cuaca ekstrem mengganggu produksi pangan, harga makin tidak stabil, dan kondisi kerja makin berat. Ini bukan isu jauh. Ini sudah terasa di harga beras, di panasnya tempat kerja, di banjir yang mengganggu aktivitas ekonomi.

Jadi kalau semua tekanan ini dikumpulkan harga naik, upah stagnan, kerja makin panjang, dan risiko hidup makin besar lalu kita masih menyederhanakan masalah dengan kalimat “kurang kerja keras”, itu bukan solusi. Itu pengalihan.

Karena pada akhirnya, ini bukan semata masalah individu. Ini masalah sistem.

Tidak semua orang bisa “menang” hanya dengan usaha pribadi ketika aturan mainnya timpang. Ketika harga kebutuhan dasar tidak terkendali, ketika perlindungan pekerja lemah, ketika upah tidak mencerminkan biaya hidup, maka kerja keras hanya membuat orang bertahan lebih lama dalam kondisi yang sama—bukan keluar darinya.

Yang dibutuhkan bukan sekadar motivasi, tapi keberanian untuk mengakui bahwa ada yang tidak adil.

Pemerintah punya peran penting: menjaga stabilitas harga pangan, memastikan upah layak benar-benar layak, memperkuat perlindungan pekerja, dan menghadapi krisis iklim sebagai masalah ekonomi nyata. Tanpa itu, masyarakat akan terus diminta produktif di tengah kondisi yang tidak rasional.

Dan mari kita luruskan satu hal: masyarakat tidak sedang meminta kemewahan.

Mereka hanya ingin hidup normal bekerja dengan layak, makan cukup, punya waktu istirahat, dan tidak harus punya dua atau tiga pekerjaan hanya untuk bertahan.

Tapi di situasi sekarang, hidup normal saja terasa seperti target yang terlalu tinggi.

Dan ketika rakyat diminta “sukses” dalam kondisi seperti ini, itu bukan lagi motivasi.

Itu sarkasme.

Tags: Dunia MagisterMahasiswa MagisterMMSDM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Catur Politik: Mengapa Mohammad Jumhur Hidayat Masuk Kabinet Prabowo Subianto?

Catur Politik: Mengapa Mohammad Jumhur Hidayat Masuk Kabinet Prabowo Subianto?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Kesehatan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM OLAHRAGA ONIC Pangeran Sastra PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister