Berawal dari hal sepele: baju dan roti yang senada. Candaan ringan yang biasanya hanya lewat, tapi kali ini mengandung makna lebih dalam. “Senada karena ada cinta,” kata itu meluncur sambil tertawa, seolah bercanda, padahal di baliknya terselip pengakuan yang jujur bahwa perasaan sering kali menyamakan hal-hal kecil tanpa disadari.
Cinta memang begitu. Ia tak selalu hadir lewat pernyataan besar atau janji yang megah. Kadang ia muncul lewat warna baju, pilihan roti, atau tawa yang terasa nyambung tanpa perlu dijelaskan. Semua terasa klop, senada, dan hangat. Pada fase itu, kita sering lupa bahwa keselarasan kecil belum tentu menjamin perjalanan yang panjang.
Lalu Januari datang sebagai penutup. “Berakhir di Januari,” katanya, disandingkan dengan lagu yang identik dengan perpisahan. Januari yang seharusnya menjadi awal, justru berubah menjadi akhir. Tragis, tapi nyata. Perasaan yang baru bertunas, belum sempat menguat, sudah harus terlindas oleh keadaan entah oleh jarak, waktu, atau realitas yang tak ramah pada harapan.
Di situlah ironi cinta bekerja. Ia memberi kita keyakinan di awal, lalu menguji ketahanan di tengah jalan. Tidak semua yang senada bisa bertahan lama. Tidak semua yang tumbuh bisa sampai berbuah. Ada cinta yang memang hanya ditakdirkan untuk singgah, memberi rasa, lalu pergi meninggalkan cerita.
Namun, tragedi Januari bukan berarti sia-sia. Dari cinta yang gagal, kita belajar tentang kejujuran perasaan, tentang keberanian mengakui, dan tentang ikhlas melepaskan. Yang terlindas bukan hanya harapan, tapi juga ilusi bahwa semua yang indah pasti abadi.
Mungkin memang begitu peran Januari kali ini: menutup cerita sebelum terlalu jauh, agar luka tak makin dalam. Dan dari sisa-sisa perasaan itu, kita belajar satu hal penting bahwa cinta, meski berakhir, tetap pernah nyata. Pernah senada. Pernah ada.

