Muhammad Ayyubi ( Mufakkirun Siyasiyyun Community )
Drama Malaysia berjudul Bidaah tengah mencuri perhatian warganet Indonesia.
Ditayangkan melalui platform streaming Viu, sinetron ini viral berkat jalan cerita yang mengaduk emosi serta penampilan memukau dari aktor senior Faizal Hussein sebagai Walid Muhammad, pemimpin sekte yang penuh kontroversi.
Disutradarai oleh Ellie Suriaty, Bidaah yang juga dikenal dengan judul internasional Broken Heaven memiliki total 15 episode.
Serial ini tak hanya populer di Malaysia, tetapi juga menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai media sosial Indonesia seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube.
Penulis melihat ada framing negatif terhadap ajaran Islam di dalam film tersebut, seperti penggunaan kata Jihad Ummah, sorban imamah, jamaah, dan poligami.
Kita tidak menafikan adanya kelompok kelompok menyimpang dalam Islam, tetapi kenapa hanya Islam yang dimunculkan dalam film bukankah banyak juga ajaran menyimpang di luar Islam.? Atau sekalian, praktik menyimpang negara Demokrasi.
Terlepas itu semua, dalam dunia kapitalisme semua yang bisa menghasilkan uang akan diproduksi meski hal itu menyinggung ajaran suatu agama.
Secara psikologis, masyarakat akan menganggap apa yang ada di film bukan sekedar sandiwara tetapi sebuah kebenaran, apalagi film Bidaah tersebut di embel-embeli ” diangkat dari kisah nyata “.
Pesan yang ditangkap oleh masyarakat adalah bahwa semua jamaah Islam sesat, pemimpinnya maniak seks, gila hormat, memanipulasi ayat ayat Al Quran dan sejenisnya.
Inilah yang direspon masyarakat, kita bisa melihat dari postingan postingan yang mereview film bidaah.
Satu lagi, produser film biasanya akan berlindung dibalik karya seni sebagai kebebasan berekspresi, seperti yang sering kita dengar selama ini.
Dalam ekosistem demokrasi dikenal empat kebebasan, salah satunya adalah kebebasan berekspresi. Maka produser film tidak bisa disalahkan jika memakai sudut pandang ini. Jadi, sejatinya demokrasi memang ide yang cacat sejak kemunculannya yang menyerahkan penilaian baik dan buruk, pantas dan tidak kepada akal manusia yang sarat kepentingan.
Wallahu a’lam bi shawab.

