Dunia Magister
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak
No Result
View All Result
Dunia Magister
No Result
View All Result
Home Sajak

DALAM SEPI YANG TAK TERUNGKAP, IKRAR CINCIN YANG TERLUPA, AKU MELEPAS LAUT YANG PERNAH JADI CINTA

Dunia Magister by Dunia Magister
January 17, 2025
Reading Time: 10 mins read
DALAM SEPI YANG TAK TERUNGKAP, IKRAR CINCIN YANG TERLUPA, AKU MELEPAS LAUT YANG PERNAH JADI CINTA
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh : Endah Sri Rahayu

Saat Laut Menghadirkan Diri

Seorang pria datang, bukan dengan suara, tetapi dengan kehadiran yang menenangkan. Darah perantauan mengalir dalam tubuhnya, jauh menyebrang pulau Jawa, membawa jejak-jejak masa lalu yang tertanam dalam setiap langkahnya. Kulitnya putih, seperti embun pagi yang menyapa lembut meski usianya lebih muda. Dari tanah yang dikenal dengan ‘pempek’ makanan khas yang menyimpan cerita panjang hingga warisan dari negeri yang tegak berdiri di balik tembok besar yang menjulang, membentuknya menjadi sosok yang memancarkan kekuatan dan misteri..

Dengan desah yang tersembunyi di balik angin. Seperti petang yang merayap perlahan menyentuh tanpa memberi jejak. Namanya samar seperti ombak, seperti bisik samudra di antara malam. Ia hadir bagai biru yang tak pernah bisa kutangkap, menenangkan, namun juga penuh rahasia. Aku menyebutnya Laut, karena ia adalah luas yang mengelilingiku, menawarkan pelukannya sebagai pelipur pada trauma yang bersemayam terlalu lama. 

“Percayalah padaku,” katanya,

“Aku bukan badai, hanya gelombang kecil, aku datang untuk menghapus jejak-jejak luka yang kau biarkan mengering di hatimu.”

“Biarkan aku jadi penawar luka, Penjaga malammu, pemilik harimu,”

Kata-kata itu begitu mengalir menyentuh relung yang terjaga rapat. Begitulah janji dalam bentuk yang tak pernah tersurat. Aku mulai membiarkan pintu itu meregang ada keraguan yang menari-nari di ujung hatiku. Banyak pertanyaan yang belum terjawab.Kalbu ku bertanya,

“Apakah Laut ini benar-benar mampu meredakan badai yang selalu datang menghampiri jiwaku?.”

“Ataukah ia hanya sebuah angin yang datang sekilas dan meninggalkan sunyi di baliknya?,” resahku.

Aku mulai menatapnya dengan ragu, mencoba menangkap setiap gerak dan diamnya. Namun ia tetap hadir dengan tenang, bagai ombak yang mengalun tanpa henti. Menunggu aku untuk memberi sedikit ruang bagi hati yang lelah ini untuk menerima. Dalam tatapan itu, aku melihat sebuah dunia yang tak terungkap, namun begitu nyata. Diamnya, aku merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar janji sebuah ketenangan yang seolah membawa seluruh alam semesta dalam pelukannya.

Aku menarik napas panjang, mencoba meredakan ketakutan yang menyelubungi dada. Seperti air yang membelai pantai dengan lembut, hatiku pun mulai membuka sedikit, membiarkan Laut memasuki ruang yang telah lama terkunci. Begitu dalam, begitu sunyi, dan begitu nyata. Laut itu, yang hadir tanpa suara, kini menjadi pelipur yang tak terucapkan, menyembuhkan luka-luka yang bahkan tak aku sadari ada.

Di Bawah Kabut Telaga Saat

Di pagi yang masih buta, kami melaju berdua di atas roda dua, menembus angin yang menggigit. Deru mesin mengisi ruang yang sunyi,seperti lagu yang terdiam di antara awan kelabu. Kami, dalam keheningan yang hanya kami rasakan, menyusuri jalan yang mulai terjamah cahaya menyibak kabut dalam setiap langkah, seakan dunia ini mulai bekerja.

Angin berbisik, membawa cerita-cerita lama. Sepanjang jalan, aku mendengar kata-katanya yang hanya terbang di antara suara mesin.

“Telaga itu,” katanya, “akan menyambut kita, tempat di mana segala yang tersembunyi bertemu.”

Suara itu begitu lembut, seperti bisikan angin yang menyusup ke dalam hatiku, mengajak aku untuk percaya bahwa perjalanan ini adalah lebih dari sekadar jarak.Kami melaju dengan pasti. Hanya ada kami dan jalan seperti dua jiwa yang berlari menuju takdirnya. Matahari masih terperangkap di balik horizon, kami tahu telaga yang kami cari sudah menunggu di ujung dunia yang samar.

Di puncak yang mencekam dengan kabut tipis, di mana hujan dan angin mulai bersatu mendekap telaga yang merenung, menyimpan kisah dalam kedalamannya yang dalam. Di bawah langit yang terbalut awan kelabu dan tanah yang basah oleh hujan, kami duduk, seakan dunia membeku di antara kami. 

“Pejamkan matamu,” katanya, suara itu lembut, mengalun seiring dengan gemericik hujan yang membasahi bumi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menutup mataku, membiarkan dirinya menyentuh jemariku dengan lembut. Cincin itu, lebih berat dari setiap kata yang hilang, dikeluarkan perlahan, disertai dengan bisikan yang hanya kami yang bisa dengar. Cincin itu, yang terasa lebih dari sekadar logam, disematkan dengan penuh perhatian, di tengah dingin yang meresap.

Aku membuka mataku dengan penuh kejut dan haru, menyaksikan cincin itu kini menghiasi jariku, namun yang lebih terasa adalah janji yang terkandung di dalamnya. Tatapannya yang dalam dan penuh arti, seakan tak perlu kata-kata lagi. Cincin itu bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai ikrar yang terbungkus dalam tatapan yang tak bisa digenggam. Di tengah telaga yang hening, di bawah langit yang kelabu, kami menjadi satu, disatukan oleh janji yang tak terucapkan, namun begitu jelas di antara kami.

Dalam keheningan yang mengiris kabut, sentuhan itu datang, seperti bisikan lembut yang membelai ujung hati.Wajah kita begitu dekat, aku terdiam, tubuhku terhanyut dalam kebingungan, seakan waktu berhenti, tak tahu bagaimana harus mengisi ruang yang tiba-tiba begitu sempit. Hanya ada derap yang melambat, mengalir tanpa suara, setiap detiknya menjadi berat, mengisi celah-celah yang tak terucapkan.

Pelukan itu datang, mengalir seperti air yang menyusup ke dalam setiap pori, hangat dan penuh kekuatan, menyelimuti tubuhku dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kehadiran. Dalam pelukan itu, kami terlupa oleh dunia, kabut yang mengelilingi kami menyapu jejak yang pernah ada. Kami menjadi satu dalam hening, menyatu dengan alam yang mengerti lebih banyak dari yang bisa kami ungkapkan.

Di Depan Gang yang Menanti Hingga dalam Dekap Hujan

Di suatu hari dan tempat yang jauh dari segala keramaian, hadir hujan yang membasahi tanah dalam penantian jemputan. Aku berdiri di depan gang, menunggu di sana menyambut yang tak pernah terlihat jelas. Bagai kabut yang menghalangi pandanganku namun aku menunggu, tanpa banyak kata, hanya diam. Dari kejauhan, ia datang dengan laju tergesa membawa bunga merah yang basah dalam balik pakaian. Ia menyerahkannya bukan karena pilihan namun karena dalam setiap langkahnya ada sesuatu yang harus diberikan. Aku menerima bunga mawarnya dengan hati yang berdebar, lebih dari sekadar perasaan. Sakan waktu yang berdetak lebih cepat, setiap detik terasa penuh. Bunga merah yang basah kini terlepas di tanganku, tapi di balik kelopaknya ada janji yang mengalir. Aku terima, tak ada kata selain rasa. Sebuah pengakuan yang disembunyikan dalam hening ini.

Di atas roda dua yang menggeliat di jalan basah. Aku mendekapnya, bukan hanya tubuhnya tapi juga seluruh dunia yang terhenti sejenak. Di tengah hujan yang turun perlahan, seakan langit pun menahan napasnya. Saat itu, dunia hanya milik kita berdua. Di antara deru mesin dan gemericik air yang mengalir. Ia berkata dengan suara yang terbungkus oleh raungan angin. Mengatakan hal yang tak pernah terucap sebelumnya.

 “Maukah menjadi lebih dari sekadar bayang dalam hidupku,”

Kata-katanya menggantung di udara, Seperti janji yang belum tentu datang. Dan aku, dalam hening merasakannya. Dalam dekapanku, ada sebuah janji yang belum terucap. Aku tahu, ada lebih dari sekadar tubuh yang bersentuhan, ada perasaan yang tumbuh. Bersama rintik hujan yang terus mengiringi kita. Aku menjawab,

“Ya, aku mau.”

Menerima lebih dari sekadar kata. Menerima lebih dari sekadar permintaan. Namun sebuah perjalanan yang baru dimulai, menanti untuk dijalani. Di balik helm yang menutup wajah ada kehangatan yang menjalar, seperti tanda bahwa hujan itu bukan hanya basah, tapi juga memberi hidup, memberi arti. Saat itu, semakin melaju berkendara, membawa kita ke tempat yang tidak terlihat, ke dunia yang belum tahu akhir kisahnya.

Setiap detik yang terlewati menjadi sebuah awal, di bawah langit yang memeluk hujan di antara desah napas yang semakin mendalam. Aku tahu, perjalanan ini tidak akan mudah, banyak kabut yang harus ditembus, banyak jalan yang terjal dan berliku. Namun di sini, di bawah hujan yang tidak pernah berhenti, aku mulai siap berjalan, bersama. Di antara kata yang terucap, dan yang tak pernah terungkap, kita akan menemukan arti dari setiap langkah yang kita ambil.

Awal Januari Udara Segar untuk Orang Tua namun Kian Lama Memudar

Januari datang bersama angin yang menyusup melalui celah pintu ketika ia pertama kali datang. Membawa aroma baru yang mengusik setiap kedamaian dalam hatiku. Ia duduk di meja, berbincang dengan orang tua yang menyambutnya dengan senyum yang lebih ikhlas dari yang sempat kubayangkan. Suasana yang hangat, dengan obrolan yang mengalir begitu ringan, seperti hari yang sedang merangkak dengan penuh harapan.

Namun, seperti musim berganti tanpa bisa diprediksi, segala yang tampak indah itu mulai memudar. Hari-hari yang berlalu, seiring waktu yang terus bergerak, datanglah hujan yang tak terduga. Ketika orang tua mulai terbaring lemah, aku menyaksikan ia yang dulu hadir dengan penuh semangat, kini hanya menjadi bayangan yang semakin jauh. Ia tak lagi menemani. Ayah tergolek lemah, tak ada jejak langkahnya kemudin ibu memasuki ruang operasi, meskipun hatiku berharap. Aku bertanya, dan jawabannya menghilang dalam kesunyian yang mendalam.

Namun, meskipun hatiku terluka, aku memaafkan. Cinta ya cinta yang telah ada, meski retak, masih memegang erat sesuatu yang tak terungkap. 

Waktu begitu lama telah berganti ia mulai berbicara tentang keseriusan, bahwa ia ingin menikahiku, namun seolah kata itu terhenti di ujung bibirnya. Aku menunggu, menanti lebih dari sekadar katakata. Aku menuntutnya, menginginkan jawaban yang lebih dari sekadar bisikan, tetapi ia tetap diam, seakan terjebak dalam labirin yang tak bisa ia pahami.

Di tengah kebisuan itu, aku mulai meragukan segala yang pernah aku percayai. Seperti bayangan yang tak pernah cukup nyata, aku merasa tak lebih dari sebuah aib yang tersembunyi. Cinta itu, yang dahulu mengalir seperti sungai yang penuh janji, kini mengering menjadi pasir yang hilang tertiup angin. Keinginan untuk berkenalan dengan keluarganya, yang tak pernah terjadi, semakin mengukuhkan bahwa aku hanyalah bayang yang tak layak muncul ke permukaan.

Semakin banyak waktu berlalu, semakin besar ketakutanku, seperti ombak yang menggulung tanpa ampun. Ia datang, mencoba menenangkan, tetapi semakin lama semakin tampak bahwa keseriusan itu hanyalah sebuah permainan dalam bentuk lain. Aku terdiam, menunggu, berharap akan ada kejelasan, namun yang datang malah lebih banyak kebingungan. Begitu banyak janji yang tergantung tanpa pernah jatuh ke tanah.

Saat perjalanan kami mengarah ke bioskop, ia mengutarakan keinginannya untuk lebih serius, namun tetap ada satu syarat: waktu. Aku diam, mataku berkilat penuh keraguan. Ia diam. Pertanyaan itu menggantung, namun tak ada jawaban yang bisa mengisi ruang kosong yang ada. Aku menuntut, memintanya untuk menghadap orang tua, untuk menjelaskan segala yang terpendam, tetapi ia tetap tak bersuara.

Ketika tahun semakin mendekat untuk berakhir, angin itu terasa lebih dingin. Tidak ada lagi aroma segar, hanya desah sepi yang mengisi ruang kosong dalam hati. Perjalanan ini yang tadinya penuh harapan kini berakhir dengan banyak tanya yang tak terjawab. Aku menatapnya, namun ia sudah jauh, tak dapat ku raih lagi. Seperti hujan yang turun tanpa peringatan, kebersamaan itu pun tergerus, meninggalkan hanya kenangan yang kini terasa samar.

Aku merasa seperti benang yang tak bisa dijalin, terlepas satu per satu hingga tersisa hanya simpulsimpul yang tak terurai. Aku tak lagi menjadi prioritas, aku hanyalah penunggu di lorong yang panjang, menanti sesuatu yang tak pernah pasti. Bahkan ketika ia membujuk, aku merasakan hanya ada keengganan dalam dekapan. Aku menginginkan jawaban, tapi hanya kecupan di pipi yang datang sebagai akhir dari cerita yang tak pernah lengkap.

Desember antara Hening dan Keputusan

Di ujung perjalanan yang penuh kabut ini, aku mulai tahu, bahwa cinta tidak selalu memberikan jawaban. Ada lebih banyak yang terpendam, lebih banyak yang harus aku temui dalam hening, di tempat yang tidak ada kata yang bisa menjelaskan. Cincin itu, janji itu, kini menjadi bayang yang tak lagi bisa digenggam, terlepas bersama waktu yang tak pernah berhenti bergerak. Di balik usaha yang tak pernah terucap, tumbuhlah ruang yang tidak pernah terisi penuh.

Aku mulai mengenal hening yang lebih keras. Daripada tawa yang pernah ada. Di bulan yang tak pernah selesai, aku bertanya, tanpa suara, mencari yang tak pernah ada. Mengharapkan lebih dari yang tampak, namun hanya menemui lebih banyak sepi. Seperti daun yang jatuh tanpa alasan, meninggalkan bekas yang hanya bisa dirasakan, namun tak pernah dijelaskan. Aku mencoba menggenggam keheningan itu, seakan ada bagian dari diriku yang terlepas, yang tak bisa aku pegang lagi. Setiap kali ku coba mengungkapkan, hanya ada ruang yang menghisap kata-kata kembali. Hanya ada kesunyian yang semakin mengerucut.

Aku mengembalikan apa yang bukan lagi milikku. Bukan karena hati itu hilang, tetapi karena dalam setiap hening, ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar cincin. Sesuatu yang tidak bisa dipertahankan. Sebab dalam sunyi, segala usaha menjadi lebih kecil dari sepotong harapan yang tenggelam. Dia, yang pernah menjadi bayang di sepanjang jalan, kini hanya tinggal sebuah jejak yang tak sempat terhapus. Kisah yang seharusnya tak terungkap, kini menjadi ruang kosong yang menunggu di antara kata-kata yang tak pernah keluar. Cincin itu, kini terlepas. Tidak karena tidak ada cinta, tapi sebab dalam kesunyian ada yang lebih penting daripada sekadar bertahan.

Sebuah keputusan yang lahir dari kelam yang tak pernah terlihat. Kini aku tahu bahwa dalam setiap kata yang hilang ada sesuatu yang lebih besar dari apa yang pernah diungkapkan. Bukan karena keinginan yang tak pernah tercapai. Hening itu, lebih menuntut ketegasan daripada segala usaha yang tumbuh dalam kebisuan.

Keputusan ini, yang datang seperti angin yang tak terdengar namun menuntut, mengalir lewat jarijariku, lebih dari sekadar penutupan. Dalam hening yang membeku, aku belajar untuk melepaskan dengan sepenuh hati, meskipun itu terasa lebih berat daripada menahan segala yang pernah ada. Keputusan ini bukan sebuah akhir, namun sebuah ruang baru yang lebih besar, lebih lapang, yang mengajak aku untuk berjalan tanpa beban, meskipun tanpa jawaban yang lengkap.

Setiap langkah menjadi lebih pasti, meskipun kabut masih menyelimuti. Dalam keputusan ini, aku mengerti bahwa cinta yang sejati tak selalu datang dengan bentuk yang nyata. Terkadang, ia hanya berupa kehadiran dalam hening, di antara waktu yang terus berjalan, dan dalam kekosongan yang tersisa. Di akhir Desember ini, aku tahu, aku harus melangkah lebih jauh lagi tidak untuk mencari apa yang hilang, tetapi untuk menemukan kembali diri yang tertinggal dalam sunyi.

Kisahku dengan laut itu telah usai, seperti ombak yang akhirnya menghilang ke dasar samudra, meninggalkan jejak yang hanya bisa terasa, namun tak pernah terlihat lagi. Dalam keheningan yang mendalam, aku tahu, meskipun laut itu tak lagi menyapa, aku tetap akan mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan yang pernah ada sebuah cerita yang tumbuh dalam diam dan berakhir dalam ketidakpastian, seperti aliran air yang terus mengalir, meski tak pernah kembali ke tempat yang sama.

Tags: CintaDunia MagisterESRLUKAMM
Dunia Magister

Dunia Magister

Next Post
Match Prediction, Bahrain Darts Masters: Peter Wright vs. Paolo Nebrida

Match Prediction, Bahrain Darts Masters: Peter Wright vs. Paolo Nebrida

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram TikTok Youtube

Categories

  • Berita
  • Buruh
  • Cinta
  • E-Sport
  • Jurnal
  • K3
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Mahasiswa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Perempuan
  • Resep
  • Sajak

Tags

ALTER EGO Berserikat BONTA Bundesliga Buruh Cinta Dunia Magister E-Sport ESR Filsafat Hari Kartini Hukum ILO JUDI ONLINE K3 Kepemimpinan Kepuasan Korupsi M7 Mahasiswa Mahasiswa Magister Manajemen Manajemen SDM May Day MLBB MM OLAHRAGA ONIC Pangeran Sastra PASAT Pekerja Pemimpin Penelitian Perempuan PKM Politik Puisi Ralez RRQ Sajak SDM Serikat buruh Serikat Pekerja Tempirai Upah

2025 © Dunia Magister

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Jurnal
  • Opini
  • Sajak

2025 © Dunia Magister