Oleh: Nurul Khofifah Lestari
“Saya hanya perempuan sederhana. Tapi saya percaya, kesederhanaan tidak menghalangi pendidikan untuk tetap tinggi.”
Pendidikan tinggi sering kali dibicarakan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Melalui pendidikan, seseorang diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.
Namun, di balik harapan tersebut, ada sebuah kenyataan yang tidak boleh kita abaikan: tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi.
Bagi sebagian perempuan, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi merupakan perjalanan yang relatif mudah karena didukung oleh kemampuan ekonomi keluarga, lingkungan sosial, dan fasilitas pendidikan yang memadai. Sementara bagi perempuan lainnya, keinginan untuk kuliah harus berhadapan dengan persoalan biaya, tanggung jawab keluarga, keterbatasan informasi, bahkan pandangan sosial yang mempertanyakan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Kenyataan inilah yang membuat saya berpikir bahwa persoalan pendidikan perempuan bukan hanya tentang kemauan untuk belajar, tetapi juga tentang keadilan dalam memperoleh kesempatan.
Saya percaya bahwa perempuan tidak harus berasal dari keluarga kaya untuk memiliki pendidikan tinggi.
Sebab, kemampuan berpikir tidak ditentukan oleh jumlah kekayaan keluarga. Kecerdasan tidak diwariskan melalui status sosial. Dan cita-cita tidak seharusnya dibatasi oleh keadaan ekonomi seseorang.
Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang bagi siapa pun yang ingin mengembangkan kemampuan dirinya, bukan menjadi hak istimewa yang hanya mudah dijangkau oleh mereka yang memiliki kekayaan.
Ketika Pendidikan Tinggi Terasa Seperti Kemewahan
Dalam kehidupan masyarakat, kita masih dapat menemukan perempuan yang sebenarnya memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan, tetapi terpaksa menundanya karena persoalan ekonomi.
Ada yang harus segera bekerja setelah menyelesaikan sekolah menengah untuk membantu orang tua. Ada yang mengurungkan niat kuliah karena biaya pendidikan dianggap terlalu besar. Ada pula yang harus membagi penghasilan antara kebutuhan keluarga dan keinginan untuk melanjutkan studi.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya dapat diakses secara setara.
Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi yang baik, biaya pendidikan mungkin dapat direncanakan sejak dini. Namun, bagi keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya kuliah dapat menjadi keputusan besar yang membutuhkan banyak pertimbangan.
Persoalannya bukan hanya biaya perkuliahan.
Mahasiswa juga membutuhkan biaya transportasi, tempat tinggal, buku, perangkat belajar, akses internet, dan berbagai kebutuhan lain yang mendukung proses pendidikan.
Ketika seluruh kebutuhan tersebut diperhitungkan, pendidikan tinggi dapat terasa seperti sesuatu yang sangat jauh bagi sebagian perempuan dari keluarga sederhana.
Saya tidak ingin mengabaikan kenyataan tersebut dengan mengatakan bahwa siapa pun pasti bisa kuliah asalkan mau berusaha.
Pernyataan semacam itu terdengar memberikan semangat, tetapi berisiko mengabaikan persoalan struktural yang sesungguhnya dihadapi banyak perempuan.
Tidak semua orang memulai perjuangan dari keadaan yang sama.
Karena itu, keberhasilan memperoleh pendidikan tinggi tidak boleh hanya dilihat sebagai hasil kerja keras individu. Ada faktor kesempatan, dukungan keluarga, kebijakan pendidikan, dan kondisi sosial yang ikut menentukan.
Jika pendidikan merupakan jalan menuju kehidupan yang lebih baik, seharusnya jalan tersebut tidak hanya terbuka lebar bagi mereka yang telah memiliki kehidupan berkecukupan.
Kecerdasan Perempuan Tidak Ditentukan oleh Kekayaan Keluarganya
Saya sering berpikir, berapa banyak perempuan cerdas yang tidak pernah memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya karena keterbatasan ekonomi?
Berapa banyak perempuan yang memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi harus menghentikan pendidikan karena keluarganya tidak mampu membiayai kuliah?
Dan berapa banyak potensi yang akhirnya tidak berkembang secara optimal karena kesempatan belajar belum tersedia secara adil?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena masyarakat terkadang terlalu mudah menghubungkan keberhasilan pendidikan dengan kemampuan pribadi seseorang.
Perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dianggap memiliki kemampuan dan kemauan yang besar. Sementara perempuan yang tidak melanjutkan pendidikan terkadang dianggap kurang memiliki ambisi.
Padahal, kesimpulan tersebut tidak selalu benar.
Ada perempuan yang sangat ingin belajar, tetapi harus memprioritaskan kebutuhan keluarganya. Ada yang memiliki kemampuan intelektual yang baik, tetapi tidak mendapatkan informasi mengenai beasiswa. Ada pula yang harus menghadapi hambatan sosial karena lingkungannya tidak mendukung pendidikan perempuan.
Keterbatasan kesempatan tidak boleh disamakan dengan keterbatasan kemampuan.
Saya percaya bahwa kecerdasan dapat tumbuh di berbagai lingkungan kehidupan.
Anak perempuan dari keluarga petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, maupun pekerja sektor informal memiliki hak yang sama untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya.
Mereka berhak bercita-cita menjadi akademisi, peneliti, dokter, guru, pemimpin, atau profesional di berbagai bidang.
Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa cita-cita tersebut terlalu tinggi hanya karena keadaan ekonomi keluarganya sederhana.
Kemampuan ekonomi dapat memengaruhi kesempatan seseorang memperoleh pendidikan, tetapi tidak menentukan batas kecerdasan dan nilai kemanusiaannya.
Pendidikan Perempuan Masih Berhadapan dengan Harapan Sosial
Persoalan akses pendidikan perempuan tidak hanya berkaitan dengan biaya.
Dalam sebagian lingkungan masyarakat, perempuan masih menghadapi pandangan yang menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting dibandingkan peran domestiknya.
Ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan terlalu tinggi karena pada akhirnya akan menikah dan mengurus keluarga.
Pandangan tersebut perlu dikaji kembali secara kritis.
Pernikahan dan kehidupan keluarga merupakan pilihan serta bagian penting dari kehidupan banyak perempuan. Namun, keduanya tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membatasi hak perempuan untuk memperoleh pendidikan.
Perempuan yang menikah tetap memiliki hak untuk belajar. Perempuan yang menjadi ibu tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan. Demikian pula perempuan yang memilih berkarier atau menempuh jalur kehidupan berbeda.
Pendidikan tidak seharusnya dipertentangkan dengan identitas atau peran perempuan dalam keluarga.
Justru pendidikan dapat memperluas kemampuan seseorang dalam memahami kesehatan, ekonomi, pengasuhan, hubungan sosial, serta berbagai persoalan yang dihadapi keluarga dan masyarakat.
Namun, saya juga tidak ingin pendidikan perempuan hanya dibenarkan karena manfaatnya bagi suami, anak, atau keluarga.
Perempuan berhak memperoleh pendidikan karena dirinya sendiri merupakan manusia yang memiliki kemampuan berpikir, cita-cita, dan hak untuk berkembang.
Perempuan tidak harus membuktikan bahwa pendidikannya akan berguna bagi orang lain terlebih dahulu agar dianggap layak untuk belajar.
Pendidikan adalah haknya sebagai manusia.
Pendidikan Tinggi Harus Menjadi Kesempatan, Bukan Keistimewaan
Jika kita benar-benar percaya bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara, maka kesempatan memperoleh pendidikan harus menjadi perhatian bersama.
Pemerintah, perguruan tinggi, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam memperluas akses pendidikan.
Kebijakan beasiswa, bantuan biaya pendidikan, fasilitas pembelajaran yang terjangkau, serta dukungan bagi mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah merupakan bagian penting dari upaya tersebut.
Namun, bantuan pendidikan juga perlu disertai kemudahan memperoleh informasi dan proses seleksi yang transparan.
Jangan sampai kesempatan pendidikan sebenarnya tersedia, tetapi sulit diakses oleh perempuan yang paling membutuhkannya karena keterbatasan informasi atau hambatan administratif.
Perguruan tinggi juga perlu terus mengembangkan lingkungan belajar yang inklusif bagi mahasiswa dengan kondisi sosial dan ekonomi yang beragam.
Pendidikan yang berkualitas tidak cukup hanya diukur dari reputasi lembaga, fasilitas kampus, atau jumlah lulusan yang dihasilkan.
Kualitas pendidikan juga perlu dilihat dari kemampuannya memberikan kesempatan kepada mereka yang selama ini menghadapi hambatan.
Bagi saya, perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat bertemunya berbagai pengalaman kehidupan.
Anak dari keluarga kaya dan anak dari keluarga sederhana dapat belajar bersama, bertukar pemikiran, serta memahami kenyataan sosial dari sudut pandang yang berbeda.
Keberagaman tersebut justru dapat memperkaya proses pendidikan.
Kampus seharusnya menjadi tempat untuk memperluas kesetaraan kesempatan, bukan ruang yang mempertegas jarak antara mereka yang mampu dan mereka yang kurang mampu.
Perempuan Sederhana Tidak Perlu Merasa Rendah di Ruang Akademik
Ada persoalan lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu rasa percaya diri perempuan ketika memasuki lingkungan pendidikan tinggi.
Perempuan dari keluarga sederhana mungkin harus berhadapan dengan lingkungan sosial yang memiliki kebiasaan, gaya hidup, dan kemampuan ekonomi berbeda.
Ada mahasiswa yang mampu membeli berbagai kebutuhan tanpa banyak pertimbangan. Ada yang memiliki fasilitas belajar lengkap, mengikuti kegiatan tambahan berbayar, atau memperoleh dukungan finansial yang memadai.
Sementara mahasiswa lainnya mungkin harus mengatur pengeluaran dengan sangat hati-hati, bekerja sambil kuliah, atau membatasi kegiatan tertentu karena persoalan biaya.
Perbedaan tersebut dapat menimbulkan perasaan minder apabila seseorang mulai membandingkan nilai dirinya berdasarkan keadaan ekonomi.
Saya percaya bahwa perempuan sederhana tidak perlu merasa lebih rendah hanya karena tidak memiliki fasilitas atau penampilan yang sama dengan orang lain.
Ruang akademik seharusnya menilai seseorang berdasarkan kualitas pemikiran, integritas, usaha, dan kontribusinya dalam proses pembelajaran.
Bukan berdasarkan merek pakaian, jenis kendaraan, atau kemampuan mengikuti gaya hidup tertentu.
Tentu saja, kepercayaan diri bukan berarti mengabaikan kenyataan bahwa ketimpangan ekonomi dapat memengaruhi pengalaman belajar.
Karena itu, lingkungan pendidikan juga harus membangun budaya yang menghargai keberagaman latar belakang mahasiswa.
Tidak seorang pun seharusnya merasa tidak pantas berada di perguruan tinggi hanya karena berasal dari keluarga sederhana.
Kesederhanaan bukan sesuatu yang harus disembunyikan ketika kita memasuki ruang pendidikan tinggi.
Justru pengalaman hidup yang berbeda dapat memberikan perspektif berharga dalam memahami persoalan masyarakat.
Gelar Akademik Bukan Ukuran Kemuliaan Manusia
Di tengah keinginan untuk memperoleh pendidikan tinggi, saya juga ingin mengingatkan diri sendiri bahwa gelar akademik bukanlah ukuran tunggal keberhasilan atau kemuliaan seseorang.
Pendidikan tinggi memang penting, tetapi bukan berarti mereka yang tidak memiliki kesempatan kuliah mempunyai nilai yang lebih rendah.
Banyak orang yang tidak menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi memiliki pengetahuan praktis, pengalaman hidup, keterampilan, dan kebijaksanaan yang patut dihormati.
Seorang ibu yang bekerja keras membesarkan anak-anaknya, seorang petani yang memahami alam melalui pengalaman panjang, atau seorang pekerja yang menguasai keterampilan melalui praktik bertahun-tahun memiliki pengetahuan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Karena itu, perjuangan memperluas akses pendidikan tinggi tidak boleh berubah menjadi sikap yang merendahkan mereka yang menempuh jalan kehidupan yang berbeda.
Saya ingin memperoleh pendidikan setinggi mungkin, tetapi saya tidak ingin menjadikan pendidikan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Saya ingin gelar akademik menjadi tanggung jawab untuk terus belajar dan memberikan manfaat.
Bukan sekadar simbol status sosial.
Bagi saya, perempuan berpendidikan bukanlah perempuan yang merasa paling pintar ketika berbicara.
Perempuan berpendidikan adalah perempuan yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bijaksana, menghormati orang lain, dan menyadari bahwa proses belajar tidak pernah benar-benar selesai.
Ilmu yang tinggi seharusnya membuat seseorang semakin memahami nilai kemanusiaan, bukan semakin sibuk membedakan derajat manusia.
Ketika Perempuan Berpendidikan, Masyarakat Ikut Memiliki Harapan
Saya percaya bahwa memperluas kesempatan pendidikan bagi perempuan tidak hanya memberikan manfaat kepada individu yang bersangkutan.
Pendidikan perempuan juga memiliki arti penting bagi perkembangan masyarakat.
Perempuan yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dapat berpartisipasi lebih luas dalam kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan pengambilan keputusan.
Mereka dapat menjadi pendidik, peneliti, tenaga profesional, pelaku usaha, penggerak masyarakat, maupun pemimpin yang menghadirkan perspektif baru dalam menyelesaikan persoalan.
Namun, kontribusi tersebut tidak boleh dipahami sebagai kewajiban yang membebani perempuan untuk selalu membuktikan manfaat pendidikannya kepada masyarakat.
Setiap perempuan tetap memiliki kebebasan menentukan bagaimana ia ingin menggunakan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya.
Hal yang perlu diperjuangkan adalah tersedianya kesempatan yang memungkinkan perempuan mengembangkan potensinya tanpa dibatasi oleh keadaan ekonomi atau stereotip gender.
Masyarakat yang memberikan kesempatan pendidikan yang lebih adil kepada perempuan pada dasarnya sedang memperluas sumber pengetahuan, keterampilan, dan gagasan yang dapat mendukung kemajuan bersama.
Karena itu, investasi dalam pendidikan perempuan bukan semata-mata urusan pribadi atau keluarga.
Ia juga merupakan bagian dari tanggung jawab sosial untuk membangun kehidupan yang lebih adil.
Penutup: Saya Tidak Harus Kaya untuk Berani Bercita-cita Tinggi
Saya tidak pernah berpikir bahwa kesederhanaan harus menjadi sesuatu yang memalukan.
Saya justru ingin mempertahankan kesederhanaan sebagai bagian dari nilai kehidupan yang saya yakini.
Saya tidak harus memiliki banyak harta untuk menghargai ilmu pengetahuan. Saya tidak harus mengenakan pakaian mahal untuk merasa pantas berada di ruang akademik. Dan saya tidak harus berasal dari keluarga berada untuk memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
Namun, saya juga memahami bahwa keberanian bermimpi perlu diikuti oleh kesempatan nyata untuk mewujudkannya.
Karena itu, ketika berbicara tentang perempuan sederhana yang ingin berpendidikan tinggi, kita tidak cukup hanya memberikan motivasi agar mereka terus berjuang.
Kita juga perlu memperjuangkan sistem pendidikan yang lebih terbuka, terjangkau, dan berkeadilan.
Saya ingin hidup dalam masyarakat yang tidak lagi memandang pendidikan tinggi sebagai keistimewaan bagi perempuan kaya.
Saya ingin setiap anak perempuan, apa pun latar belakang keluarganya, dapat melihat perguruan tinggi sebagai kesempatan yang mungkin diraih.
Saya ingin perempuan sederhana tidak merasa harus meminta maaf karena memiliki cita-cita besar.
Dan saya ingin pendidikan tidak mengubah cara kita menghargai manusia berdasarkan status sosialnya.
Bagi saya, pendidikan tinggi bukanlah perjalanan untuk meninggalkan kesederhanaan.
Pendidikan adalah kesempatan untuk memperluas pengetahuan, memperkuat kemandirian, dan membangun kemampuan untuk memberikan manfaat.
Saya hanya perempuan sederhana. Tetapi saya percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas kekayaan, dan cita-cita tidak seharusnya berhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.
Saya tidak harus menjadi perempuan kaya untuk memiliki pendidikan tinggi. Saya hanya membutuhkan kesempatan yang adil, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian untuk tidak menyerah pada keadaan.
Pada akhirnya, yang menentukan kemuliaan seorang perempuan bukanlah seberapa banyak harta yang dimilikinya, melainkan bagaimana ia menjaga martabat, mengembangkan pengetahuan, dan memperlakukan sesama manusia.
Sederhana dalam gaya, tinggi dalam ilmu, dan mulia dalam karakter.
— Nurul Khofifah Lestari
Serial Opini Hari ke-3 dari 30 Hari: Perempuan Sederhana, Mimpi yang Tinggi.

