Terminal Kalideres sore itu penuh suara klakson, teriakan kernet, dan langkah orang-orang yang buru-buru pulang. Aku duduk di bangku dekat warung kopi kecil, secangkir kopi hitam masih mengepul di tangan. Hujan baru saja reda, menyisakan bau aspal basah bercampur asap kendaraan.
Di sebelahku duduk seorang bapak sekitar lima puluhan. Bajunya lusuh, sandal jepitnya hampir putus. Wajahnya terlihat lelah, seperti orang yang terlalu lama memikul sesuatu sendirian.
“Bang… boleh minta tolong beliin kopi satu?” katanya pelan.
Aku mengangguk. Tak lama, segelas kopi sachet hangat sudah ada di depannya. Ia tersenyum kecil, lalu mengucapkan terima kasih berkali-kali seperti kopi itu lebih berharga dari yang aku bayangkan.
Kami mulai ngobrol.
Awalnya soal kerjaan. Katanya dulu dia sopir angkot. Kadang narik pagi sampai malam. Tapi sekarang penumpang sepi, setoran tetap jalan, hidup makin sempit.
Lalu tiba-tiba ia tertawa kecil, pahit.
“Saya ini udah kayak minum obat, Bang…”
“Maksudnya?” tanyaku.
“SLOT… sehari bisa tiga kali main. Pagi, siang, malam. Kayak orang minum obat.”
Ia menatap kopi di tangannya lama sekali.
Katanya awalnya cuma coba-coba. Seratus ribu menang jadi lima ratus ribu. Dari situ dia merasa menemukan jalan cepat untuk keluar dari susah hidup. Tapi ternyata bukan keluar jalan… malah masuk lubang lebih dalam.
“Sekarang tiap habis narik, bukan mikir beli beras dulu. Yang kepikiran malah depo.”
Ia tertawa lagi, tapi kali ini matanya mulai merah.
“Kadang anak minta uang jajan, saya bilang belum ada. Tapi saya bisa isi SLOT malamnya…”
Suasana terminal tetap ramai, tapi cerita bapak itu membuat semuanya terasa sunyi.
Ia bilang pernah berhenti. Pernah hapus aplikasi. Pernah sumpah di depan istrinya. Tapi setiap pegang uang, tangannya seperti bergerak sendiri.
“Kalau kalah penasaran. Kalau menang serakah.”
Kalimat itu pendek, tapi terasa berat sekali.
Aku melihat jemarinya gemetar saat memegang gelas kopi. Entah karena dingin, entah karena terlalu sering menahan cemas.
“Saya tahu ini salah, Bang. Tapi candunya itu… lebih berat dari rokok.”
Lalu ia menunduk.
“Yang paling sakit bukan kalah uangnya. Tapi kalah sama diri sendiri.”
Aku diam.
Di Terminal Kalideres sore itu, aku sadar sesuatu:
kadang yang paling berbahaya bukan kemiskinan, tapi harapan palsu yang dijual terus-menerus kepada orang-orang yang sedang putus asa.
Dan di tengah riuh kendaraan yang datang dan pergi, seorang bapak hanya ingin didengar cerita hidupnya… ditemani segelas kopi hangat.

