Ada ironi yang jarang kita sadari: pendidikan yang seharusnya memerdekakan, justru kadang terasa seperti jalur produksi. Sarjana “dicetak” dalam jumlah besar—rapi, seragam, siap dilempar ke pasar kerja. Di atas kertas, ini tampak seperti kemajuan: angka partisipasi pendidikan meningkat, gelar semakin mudah diraih, dan kesempatan terbuka lebar. Namun, pertanyaannya: untuk siapa semua ini sebenarnya dirancang?
Ketika jumlah lulusan melimpah, nilai manusia perlahan direduksi menjadi sekadar angka dalam statistik tenaga kerja. Persaingan menjadi begitu padat, hingga posisi tawar individu melemah. Pada titik ini, kita patut bertanya dengan jujur: apakah pendidikan sedang membangun manusia, atau sekadar memenuhi kebutuhan sistem ekonomi yang membutuhkan tenaga kerja murah?
Bukan berarti pendidikan adalah kesalahan. Justru sebaliknya pendidikan adalah fondasi penting. Tapi ketika orientasinya bergeser, dari membentuk karakter dan daya pikir menjadi sekadar memenuhi pasar, di situlah masalah mulai tumbuh. Sarjana bukan lagi simbol kapasitas berpikir kritis, melainkan tiket masuk ke antrean panjang yang sama.
Di sinilah ruang berpikir itu penting.
Setiap langkah yang kita ambil memilih jurusan, mengejar gelar, hingga masuk ke dunia kerja perlu disertai kesadaran. Apakah kita benar-benar sedang membangun diri, atau hanya mengikuti arus yang sudah ditentukan? Apakah kita memilih jalan ini karena panggilan, atau karena sistem mengarahkan ke sana tanpa banyak pilihan?
Manusia bukan produk. Kita punya kehendak, nilai, dan potensi yang tidak bisa diseragamkan. Maka, di tengah arus besar yang seolah menyeragamkan, penting untuk berhenti sejenak dan bertanya: ke mana saya ingin melangkah, dan untuk apa?
Tulisan ini bukan untuk menolak pendidikan atau pekerjaan, melainkan untuk mengajak berpikir lebih dalam. Bahwa di balik setiap pilihan, selalu ada ruang untuk kesadaran. Dan mungkin, justru dari kesadaran itulah, manusia bisa kembali menjadi subjek bukan sekadar objek dalam sistem yang terus berjalan.
