Oleh: Endah Sri Rahayu
Tak ku sanding waktu pada pintu pilihan,
tak ku hitung detik di mimbar harap.
Aku bukan musim yang mengemis peralihan,
bukan embun yang tergantung pada belas kasih pagi.
Aku wanita yang berjalan tanpa nyala sorak,
yang menolak meminang takdir dengan tangis,
tak menadah, tak mengemis makna pada pundak asing.
Cinta, bila ia hadir, biarlah datang sebagai setara
bukan penguasa, bukan juru selamat.
Ku jaga sunyi bukan karena sepi menawan,
melainkan sebab di dalamnya aku membangun bahasa,
bahasa yang tak memerlukan terjemah.
Aku tidak menunggu, sebab menunggu adalah kesepakatan
dengan rasa yang belum selesai.
Aku tidak mengejar, sebab mengejar adalah kehausan
yang belum mengenal dirinya sendiri.
Jika kelak kau menjumpaku di simpang cahaya,
itu bukan karena aku berpaling padamu,
tapi sebab semesta tak lagi perlu menjelaskan
mengapa langkah kita menubuat arah yang serupa.

