“Sabar sedikit pada saat marah, akan menghemat ribuan penyesalan.”
— Ali bin Abi Thalib
Kita sedang memasuki sebuah fase zaman yang terasa semakin riuh, panas, dan penuh luka. Tahun-tahun belakangan seolah membuka wajah paling keras dari kemanusiaan: amarah yang mudah tersulut, kebencian yang cepat menular, serta keangkaramurkaan yang kian berani menampakkan dirinya tanpa rasa malu.
Di berbagai lapisan hirarki sosial, keserakahan hadir dengan wajah yang semakin telanjang. Norma hukum sering dipelintir, tuntunan agama diabaikan, dan nilai-nilai kemanusiaan kerap dikorbankan demi kepentingan sesaat. Ketika kebencian massal dibiarkan tumbuh, akal sehat pun tereduksi. Fitnah dan gunjingan menjadi konsumsi harian, seolah itu hal lumrah, bukan lagi penyakit sosial.
Ironisnya, di satu sisi banyak orang berjuang keras sekadar untuk menemukan jalan nafkah. Di sisi lain, tak sedikit pula yang kehilangan pekerjaan dan masa depan. Namun di belahan lain kehidupan, ada juga mereka yang tetap memiliki penghidupan layak, tetapi gagal menikmatinya dengan rasa syukur. Kekosongan batin menjalar, meski dompet masih terisi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah kita bukan semata soal ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran. Krisis cara memandang hidup. Dunia ditempatkan terlalu tinggi, seakan menjadi tujuan akhir, bukan sekadar sarana.
Harapan saya sederhana: semoga situasi seperti ini tidak berlangsung lama, dan tidak perlu diperpanjang dengan ego, dendam, serta pertikaian yang sia-sia. Dengan kebeningan hati dan kejernihan pikiran, akal sehat sejatinya masih bisa dirawat. Dari sanalah kesadaran baru dapat dibentuk—bahwa hidup tidak harus selalu menomorsatukan urusan duniawi.
Seperti kata orang tua dahulu, yang diingatkan kembali oleh Aki Jarot Anjas Asmara:
“Da dunya mah moal dibawa paeh.”
Dunia tak akan kita bawa mati.
Maka barangkali, di tengah hiruk-pikuk dan panasnya zaman, bersabar sejenak saat marah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan tertinggi untuk tetap menjadi manusia.

