Sering kali kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak nyaman: dunia tidak pernah benar-benar adil sejak garis start kehidupan. Ada orang yang lahir di keluarga harmonis, berkecukupan, penuh dukungan emosional. Ada pula yang sejak awal sudah dipaksa bertarung—lahir di keluarga toxic, rumah tangga berantakan, orang tua berpisah, hidup dalam kekurangan, dan tumbuh di lingkungan yang tak ramah bagi kesehatan mental.
Yang paling menyayat adalah satu hal sederhana: tak satu pun dari mereka pernah memesan untuk dilahirkan di kondisi tersebut.
Titik awal kehidupan bukan sekadar latar belakang, ia adalah fondasi. Ia membentuk cara seseorang melihat dunia, mengelola emosi, memaknai relasi, bahkan menilai dirinya sendiri. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik dan kekerasan emosional harus belajar bertahan sebelum sempat belajar bermimpi. Luka psikologis yang diwariskan sejak kecil sering kali menjadi beban tak kasatmata yang mereka bawa hingga dewasa.
Memang benar, selalu ada narasi bahwa siapa pun bisa bangkit. Bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan. Itu tidak salah. Tapi sering kali kita lupa menambahkan satu kalimat penting: mereka yang lahir dari kondisi tidak sehat harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras, bukan hanya melawan keterbatasan ekonomi, tetapi juga melawan trauma, rasa tidak aman, dan pola relasi yang rusak sejak dini.
Di titik ini, kita juga harus jujur pada diri sendiri. Kehidupan orang lain memang bukan tanggung jawab kita. Kita tidak memikul kewajiban moral untuk menyelamatkan semua orang. Namun rasa iba, empati, dan kesadaran bahwa keberuntungan kita sebagian besar bukan hasil usaha pribadi semata—itu yang membuat kita tetap manusia.
Bersyukur bukan berarti menutup mata. Dan merasa kasihan bukan berarti merasa lebih tinggi. Itu hanyalah pengakuan jujur bahwa hidup memberi kartu yang berbeda pada setiap orang. Ada yang mulai dari garis depan, ada yang bahkan harus merangkak dari jurang.
Mungkin keadilan bukan tentang menyamakan nasib, melainkan tentang bagaimana kita, yang diberi titik awal lebih baik, tidak meremehkan perjuangan mereka yang harus memulai dari nol—atau bahkan dari minus. Karena di dunia yang tak adil ini, empati adalah bentuk keadilan paling sederhana yang masih bisa kita pilih.

